10 CIRI CIRI WANITA IDAMAN

Maret 2, 2011

1. Wanita Menjadikan Anda Pria yang Lebih Baik
Pada dasarnya setiap pria yang memiliki kekasih atau istri yang hebat akan berkata pasangannya lah yang membuatnya ingin menjadi orang yang lebih baik. Tak perlu kata-kata atau tindakan untuk membuat si pria merasa demikian. Hal tersebut terjadi begitu saja tanpa disadari.
Secara otomatis sang pria akan berusaha memperbaiki hidupnya, lebih perhatian pada adik perempuannya, berusaha mengatur hidupnya lebih baik, dan melakuka berbagai hal untuk membuat dirinya lebih baik. Secara tak sadar si pria kadang-kadang juga tak menyadari apa motivasinya melakukan itu semua. Well, itu semua pastinya karena cinta!

2. Wanita yang Mencintai Sepenuh Hati
Jika Anda menemukan wanita yang mencintai Anda dengan sungguh-sungguh, apa adanya dan tanpa rekayasa sebaiknya jangan sia-siakan dia. Wanita yang tidak berusaha mengubah kekasihnya sangat sulit untuk ditemukan. Tentu saja setiap orang punya kebiasaan yang menjengkelkan tapi, jika ia mencintai Anda sepenuh hati, ia pasti akan berusaha memakluminya. Cara lain untuk mengetahui ia sangat mencintai Anda adalah coba perhatikan cara ia memandang dan memperlakukan Anda. Jika Anda tak merasakan getaran-getaran cinta sebaiknya jangan dipaksakan. Jika ia mencintai Anda, sedikit hal sepele bisa jadi penting untuknya.

3. Wanita Cepat Akrab Dengan Teman dan Keluarga Kekasihnya
Pacar yang hebat tak sekadar mau membantu ibu Anda di dapur, mendengarkan cerita ayah Anda dan hang out bersama teman-teman Anda. Ia melakukan hal tersebut bukan hanya untuk menyenangkan kekasihnya, tapi benar-benar menikmati kegiatan tersebut dan melakukannya dengan sepenuh hati. Pacar yang baik sangat menghargai orang-orang yang dianggap penting oleh kekasihnya.

Dia juga tak akan meminta pria pujaan hatinya untuk menjauhi teman-teman dekatnya. Ketika teman si pria sedang patah hati, pacar yang baik akan menyarankan kekasihnya untuk mengajak sahabatnya pergi bersenang-senang. Bukti bahwa kekasih Anda demikian adalah, teman-teman Anda tak akan bersikap negatif atau terkesan berat hati jika pacar Anda akan hang-out bersama mereka.

4. Wanita Bisa Mengontrol Emosi
Pada dasarnya semua wanita cenderung menjadi tukang ngomel. Pacar yang baik tahu kapan waktunya untuk menahan amarah dan kapan waktu yang tepat untuk mengeluarkannya. Beberapa perilaku pria kerap membuat wanita terganggu, hal ini lah yang kerap menyebabkan perselisihan. Pada kesalahan-kesalahan kecil usahakan untuk bicarakan secara baik-baik, tak perlu tensi tinggi. Pria akan lebih mudah mendengarkan wanita dalam nada yang lembut.

5. Wanita yang Menghargai Kepribadian Kekasihnya
Secara tak sadar kadang sifat pria berubah sesuai dengan keinginan kekasihnya. Sifat-sifat dan kebiasaan ala lelaki menjadi berkurang atau hilang sama sekali karena perintah sang pacar. Nah, kekasih semacam ini biasanya akan dihindari pria. Walau cinta mati pada kekasihnya, seorang lelaki tetap merasa perlu waktu untuk berkumpul dengan teman-teman lelakinya.

Pria dan Wanita punya kebiasaan masing-masing yang sangat berbeda. Hargai perbedaan masing-masing dan berikan waktu untuk kehidupan lain di luar kisah asmara Anda.Kekasih yang dengan penuh pengertian memberika waktu bahkan mendukung jika kekasihnya hang-out bersama teman-temannya justru membuat pria makin tergila-gila.

6. Wanita yang Menghormati Kekasihnya
Ini hal yang penting. Pria senang punya pacar yang menghormati dan menghargainya sebagai lelaki. Intinya, dia adalah wanita yang selalu mendengarkan Anda walaupun ia tak selalu setuju dengan pendapat dan pemikiran Anda. Dan tentunya ia juga tak pernah lelah berada disisi Anda ketika saling membutuhkan. Pacar yang baik tak akan melecehkan atau membuat Anda malu di depan teman-teman ataupun keluarga dan selalu membicarakan masalah pribadi hanya untuk kalian berdua saja.

7. Wanita yang Cantik
Mungkin ini adalah hal yang biasa, tapi juga penting. Layaknya istri, pacar yang hebat juga pastinya ingin selalu terlihat cantik di mata kekasihnya. Bukan hanya untuk Anda setidaknya untuk dirinya sendiri. Ia selalu berusaha untuk tampil sebaik mungkin. Ingat, cantik bukan berarti ia harus berdandan bak model dunia. Yang penting bersih, serasi dan sesuai dengan kondisi.

8.Wanita yang Satu Hati soal Seks
Seks bisa menjadi masalah yang paling penting dewasa ini. Ketidakcocokan masalah seks bisa jadi problem yang mengganjal dalam hubungan Anda. Seorang pacar yang hebat sedikitnya mengerti selera seksual kekasihnya. Tidak harus secara keseluruhan dan menuruti semua hasrat sang kekasih. Tapi setidaknya mengerti, berkomunikasi secara terbuka dan bisa mengimbangi serta mengendalikan ke hal yang positif.

9.Wanita yang Cerdas
Seorang wanita yang cerdas punya berbagai cara agar membuat pria tidak merasa bosan ketika berada di dekatnya. Ia akan selalu memberikan kejutan kecil yang mungkin tak pernah Anda duga. Seorang wanita yang cerdas tentunya juga memiliki wawasan yang luas di luar masalah kecantikan dan model baju terbaru. Para pria tentunya akan sangat senang jika memiliki lawan bicara yang bisa merespon dengan baik topik yang dibicarakan.

10. Wanita yang Mandiri
Tak ada seorang pria pun yang ingin menjadi baby sitter untuk pacarnya. Pria lebih suka wanita yang mandiri bahkan bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan usahanya sendiri. Ia justru akan meminjamkan bahunya ketika sang pria membutuhkan. Namun walau semandiri apapun, pria juga selalu ingin merasa dibutuhkan.

Boleh saja bergantung pada pria tapi jangan keterlaluan. Sesekali Anda boleh kok manja dan minta tolong tapi jika terlalu bergantung bisa-bisa dia kabur. Selain itu, seorang wanita yang mandiri biasanya amat sangat bisa diandalkan. Ia bisa mengatur sendiri hidupnya dengan baik dari sisi finansial ataupun emosional. Ia pun bisa menikmati waktu jauh dari Anda walaupun rasa rindu itu tak bisa tertahankan.

ABG TETANGGA

Maret 1, 2011


Minggu sore hampir pukul empat. Setelah menonton CD porno sejak pagi penisku tak mau diajak kompromi. Si adik kecil ini kepingin segera disarungkan ke vagina. Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istriku pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak tunggalku ikut ibunya. Aku mencoba menenangkan diri dengan mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penisku tetap tak berkurang ereksinya. Malah sekarang terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya. “Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri nonton CD porno seharian”, gumamku.

Aku bangkit dari tiduran menuju ruang tengah. Mengambil segelas air es lalu menghidupkan tape deck. Lumayan, tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada video klip musik barat agak seronok, penisku kembali berdenyut-denyut. Nah, belingsatan sendiri jadinya. Sempat terpikir untuk jajan saja. Tapi cepat kuurungkan. Takut kena penyakit kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada obatnya sampai sekarang. Kuingat-ingat kapan terakhir kali barangku terpakai untuk menyetubuhi istriku. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini adik kecilku uring-uringan tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap. “Sekarang minta jatah..”. Sambil terus berusaha menenangkan diri, aku duduk-duduk di teras depan membaca surat kabar pagi yang belum tersentuh.

Tiba-tiba pintu pagar berbunyi dibuka orang. Refleks aku mengalihkan pandangan ke arah suara. Renny anak tetangga mendekat.
“Selamat sore Om. Tante ada?”
“Sore.. Ooo Tantemu pulang kampung sampai lusa. Ada apa?”
“Wah gimana ya..”
“Silakan duduk dulu. Baru ngomong ada keperluan apa”, kataku ramah.

ABG berusia sekitar lima belas tahun itu menurut. Dia duduk di kursi kosong sebelahku.
“Nah, ada perlu apa dengan Tantemu? Mungkin Om bisa bantu”, tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai mekar itu.
“Anu Om, Tante janji mau minjemi majalah terbaru..”
“Majalah apa sich?”, tanyaku. Mataku tak lepas dari dadanya yang tampak mulai menonjol. Wah, sudah sebesar bola tenis nih.
“Apa saja. Pokoknya yang terbaru”.
“Oke silakan masuk dan pilih sendiri”.

Kuletakkan surat kabar dan masuk ruang dalam. Dia agak ragu-ragu mengikuti. Di ruang tengah aku berhenti.
“Cari sendiri di rak bawah televisi itu”, kataku, kemudian membanting pantat di sofa.
Renny segera jongkok di depan televisi membongkar-bongkar tumpukan majalah di situ. Pikiranku mulai usil. Kulihati dengan leluasa tubuhnya dari belakang. Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya. Pinggulnya padat berisi. Bra-nya membayang di baju kaosnya. Kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau saja bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.

“Nggak ada Om. Ini lama semua”, katanya menyentak lamunan nakalku.
“Ngg.. mungkin ada di kamar Tantemu. Cari saja di sana”
Selama ini aku tak begitu memperhatikan anak itu meski sering main ke rumahku. Tetapi sekarang, ketika penisku uring-uringan tiba-tiba baru kusadari anak tetanggaku itu ibarat buah mangga telah mulai mengkal. Mataku mengikuti Renny yang tanpa sungkan-sungkan masuk ke kamar tidurku. Setan berbisik di telingaku, “inilah kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut. Tapi dia masih kecil dan anak tetanggaku sendiri? Persetan dengan itu semua, yang penting birahimu terlampiaskan”.

Akhirnya aku bangkit menyusul Renny. Di dalam kamar kulihat anak itu berjongkok membongkar majalah di sudut. Pintu kututup dan kukunci pelan-pelan.
“Sudah ketemu Ren?” tanyaku.
“Belum Om”, jawabnya tanpa menoleh.
“Mau lihat CD bagus nggak?”
“CD apa Om?”
“Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini.”

Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir ranjang. Aku memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan televisi kamar.
“Film apa sih Om?”
“Lihat saja. Pokoknya bagus”, kataku sambil duduk di sampingnya. Dia tetap tenang-tenang tak menaruh curiga.
“Ihh..”, jeritnya begitu melihat intro berisi potongan-potongan adegan orang bersetubuh.
“Bagus kan?”
“Ini kan film porno Om?!”
“Iya. Kamu suka kan?”
Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi tak berusaha memalingkan pandangannya.

Memasuki adegan kedua aku tak tahan lagi. Aku memeluk gadis itu dari belakang.
“Kamu ingin begituan nggak?”, bisikku di telinganya.
“Jangan Om”, katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang melingkari lehernya.
Kucium sekilas tengkuknya. Dia menggelinjang.
“Mau nggak gituan sama Om? Kamu belum pernah kan? Enak lo..”
“Tapi.. tapi.. ah jangan Om.” Dia menggeliat berusaha lepas dari belitanku. Namun aku tak peduli. Tanganku segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak memberontak.
“Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. Om sudah pengalaman..”

Tangan kananku menyibak roknya dan menelusupi pangkal pahanya. Saat jari-jariku mulai bermain di sekitar vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah terangsang. Pelan-pelan badannya kurebahkan di ranjang tetapi kakinya tetap menjuntai. Mulutku tak sabar lagi segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut celana warna hitam.

“Ohh.. ahh.. jangan Om”, erangnya sambil berusaha merapatkan kedua kakinya. Tetapi aku tak peduli. Malah celana dalamnya kemudian kupelorotkan dan kulepas. Aku terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu begitu mungil, berwarna merah di tengah, dan dihiasi bulu-bulu lembut di atasnya. Klitorisnya juga mungil. Tak menunggu lebih lama lagi, bibirku segera menyerbu vaginanya. Kuhisap-hisap dan lidahku mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah masih perawan dia. Renny terus menggelinjang sambil melenguh dan mengerang keenakan. Bahkan kemudian kakinya menjepit kepalaku, seolah-olah meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.

Oke Non. Maka lidahku pun makin dalam menggerayangi dinding vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih barang kenikmatan milik ABG itu kuhajar dengan mulutku. Kuhitung paling tidak dia dua kali orgasme. Lalu aku merangkak naik. Kaosnya kulepas pelan-pelan. Menyusul kemudian BH hitamnya berukuran 32. Setelah kuremas-remas buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti mulutku bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium putingnya yang kecil.

“Ahh..” keluh gadis itu. Tangannya meremas-remas rambutku menahan kenikmatan tiada tara yang mungkin baru sekarang dia rasakan.
“Enak kan beginian?” tanyaku sambil menatap wajahnya.
“Iii.. iya Om. Tapi..”
“Kamu pengin lebih enak lagi?”

Tanpa menunggu jawabannya aku segera mengatur posisi badannya. Kedua kakinya kuangkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah. Penisku pun sudah tak sabar lagi mendarat di sasaran. Namun aku harus hati-hati. Dia masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. Mulutku kembali bermain-main di vaginanya. Setelah kebasahannya kuanggap cukup, penisku yang telah tegak kutempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat kugesek-gesekkan sampai Renny makin terangsang. Kemudian kucoba masuk perlahan-lahan ke celah yang masih sempit itu. Sedikit demi sedikit kumaju-mundurkan sehingga makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala penisku masuk seluruhnya. Nah istirahat sebentar karena dia tampak menahan nyeri.

“Kalau sakit bilang ya”, kataku sambil mencium bibirnya sekilas.
Dia mengerang. Kurang sedikit lagi aku akan menjebol perawannya. Genjotan kutingkatkan meski tetap kuusahakan pelan dan lembut. Nah ada kemajuan. Leher penisku mulai masuk.
“Auw.. sakit Om..” Renny menjerit tertahan.
Aku berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa menerima penisku yang berukuran sedang. Satu menit kemudian aku maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah demi selangkah aku maju. Sampai akhirnya.. “Ouu..”, dia menjerit lagi. Aku merasa penisku menembus sesuatu. Wah aku telah memerawani dia. Kulihat ada sepercik darah membasahi sprei.

Aku meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk menenangkan. Setelah agak tenang aku mulai menggenjot anak itu.
“Ahh.. ohh.. asshh..”, dia mengerang dan melenguh ketika aku mulai turun naik di atas tubuhnya. Genjotan kutingkatkan dan erangannya pun makin keras. Mendengar itu aku makin bernafsu menyetubuhi gadis itu. Berkali-kali dia orgasme. Tandanya adalah ketika kakinya dijepitkan ke pinggangku dan mulutnya menggigit lengan atau pundakku.

“Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?”
“Ouu enak sekali Om..”
Sebenarnya aku ingin mempraktekkan berbagai posisi senggama. Tapi kupikir untuk kali pertama tak perlu macam-macam dulu. Terpenting dia mulai bisa menikmati. Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.

Sekitar satu jam aku menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum spermaku muncrat membasahi perut dan payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi perawan. Sungguh-sungguh beruntung aku ini.
“Gimana? Betul enak seperti kata Om kan?” tanyaku sambil memeluk tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai klimaks.
“Tapi takut Om..”
“Nggak usah takut. Takut apa sih?”
“Hamil”
Aku ketawa. “Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak mungkin hamil dong”
Kuelus-elus rambutnya dan kuciumi wajahnya. Aku tersenyum puas bisa meredakan adik kecilku.

“Kalau pengin enak lagi bilang Om ya? Nanti kita belajar berbagai gaya lewat CD”.
“Kalau ketahuan Tante gimana?”
“Ya jangan sampai ketahuan dong”
Beberapa saat kemudian birahiku bangkit lagi. Kali ini Renny kugenjot dalam posisi menungging. Dia sudah tak menjerit kesakitan lagi. Penisku leluasa keluar masuk diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa nikmatnya memerawani ABG tetangga.

TANTE GIRANG PENIKMAT SEX

Maret 1, 2011

Semua cerita dewasa ini terjadi begitu saja dan aku tidak pernah mengira bahwa perkenalanku dengan tante girang yang pertama kali aku kenal di media jejaring social tweeter ini akan berakhir dengan pertempuran nafsu di ranjang panas dimana awalnya kami hanya sebagai teman biasa di dunia maya,  Aku dan tante girang ini sebulan kenal dengan beliau yang aku kagumi ini hampir setiap malam di postingan status tweetnya bercerita bagaimana dia menghadapi kejamnya dunia sebagai single parent. Entah dia bercarai kerana apa aku tidak punya keberanian untuk bertannya aku hanya menyimak kisah hidupnya dari layar monitor dan pada suatu hari aku melihat statusnya yang begitu sedih menceritakan kisah pahitnya bersama suaminya akupun berinisatif menanyakan BBM tante girang tersebut awalnya bukan bermaksud untuk mendekatinya aku hanya pengen menjadi teman ngobrol dari janda beranak satu ini tapi hari demi hari aku dan wanita separuh baya ini kayaknya semakin dekat   dan dia terus berupaya mendekatiku dan akhirnya,

Pada suatu siang dia mengajak saya untuk kopi darat disebuah tempat makan dan singkat cerita dewasa ini kami serasa sudah kenal lama walaupun kita baru kenal di blackbery messenger dia begitu mempesona walau sudah pernah berstatus milik orang lain si tante girang yang berstatus janda masih sangat sempurna menurut saya tutur kata dan busana yang dikenakannya begitu anggun memancarkan aura yang positif dan hari itu tidak terjadi apa apa antara saya dan tante girang itu

Lanjut Cerita Dewasa Tante Girang Penikmat Seks, Lagi 2 harinya tepatnya jam 8 malam tante girang tersebut menelphone saya dan mengundang untuk makan malam bersama anaknya dirumah yang alamatnya tidak bisa saya publish ke public kebetulan malam itu saya tidak ada acara dan sangat suntuk dirumah saya pun menerima ajakan dari tante girang ini, Saya pun pergi kesana dengan bermaksud baik hanya menjadi teman ngobrol sidia tapi apa daya sampai sana setelah menemani makan saya diajakin minum berdua sama si tante yang suka minum minuman keras ini dan singkat cerita dewasa ini kami berduapun mabuk minuman sehingga menyebabkan juga mabuk asmara sehingga terjadi sesuatu yang kami inginkan berdua semua terjadi diluar kemauan kami nafsu tante girang penikmat seks ini begitu mengelora dia meminta saya untuk memuaskan nafsu yang mungkin sudah lama tidak tersalurkan ini kerana dia bercerita mantan suaminya tidak bisa memuaskannya di ranjang  saya pun merasa tidak enak  menolak permintaan tante janda ini dan berusaha meladeni nafsu liar wanita yang saya kagumi ini dengan segala cara mulai dari tarian striptease sampai pijetan seluruh body dengan lidah saya lakukan untuk memuaskan saya sangat menikmati permainannya sangat eksotis semua kejadian malam itu begitu nikmat sampai kami berdua ketiduran akibat kelehan dan saya pun terbangun dipagi hari dan langsung pulang tanpa minta ijin kepada tante girang yang masih terlelap tidur tanpa busana alias telanjang bulat

Sesampainya dirumah saya tante girang tersebut terus menelphone dan BBM saya namun tidak saya berani mengangkat telpnya mungkin kerana malu setelah sadar apa yang saya perbuat terhadapnya semalam atau dia mau minta service tambahan yang jelas saya masih shock untuk berbicara kepada tante girang ini tapi setelah saya mencari informasi mengenai tante girang itu saya mendapat kabar burung yang mengatakan  bahwa tante girang ini adalah sang penikmat cinta yang sangat haus akan ngentot dan kebutuhan seks dan dia memiliki banyak warisan jadinya tidak sedikit orang yang berusaha mendapatkan tante girang yang masih separuh baya ini termasuk saya sendiri yang sangat tergoda ingin menikmati kembali tubuh indah dan nikmat serta service yang sangat memuaskan dari tante girang yang berstatus janda ini| cerita dewasa sex dengan tante girang penikmat seks bebas ngentot ini akan bersambung kepart 2. Karena sampai saat ini saya masih menjalin hubungan dengan tante girang suka seks bebas dan tajir yang memiliki banyak warisan setelah saya bosan atau putus dengannya saya akan membagikan info mengenai keberadaan tante ini kepada para penikmat tante girang dan janda kesepian di blog ini, Sebagi ilustrasi sosok penampakan tante girang tersebut seperti gambar dibawah ini tapi ini bukan tante girang tersebut

 

cerita dewasa tante girang penikmat seks

NIKMATNYA MEMEK TETANGGA

Maret 1, 2011

cerita seks dewasa ngentot tante tetangga hot ini bermula ketika hujan turun deras sehingga membuat kamar gw bocor dan hanya gw sendirian yang ada dirumah waktu itu! hujannya gede banget kamar gw hampir kebanjiran dan akhirnya gw memustuskan untuk membenahi sendiri genteng yang bocor trus gw binggung nyari tangga buat naik ke loteng atas rumah! dirumah gw ga ada tangga ternyata dan akhirnya gw berencana meminjem tangga di tetangga sebelah, hujan2an gw kesana hingga basah kuyup & akhirnya disana gw mengedor pintu depan  rumah tetangga gw!

 

cerita seks ngentot memek tante hotcerita seks ngentot memek tante hot

opsttttt.. tanpa diduga sesosok wanita cantik keluar dari pintu mengunakan pakaian yg super minim sehingga membuat gw nafsu melihatnya!hihihii…..trus gw menanyakan om yang punya rumah dimana? dan dia menjawab suaminya sedang keluar negri ada urusan bisnis katanya! pas banget dech kata gw dalam hati hihihi dan gw menjelaskan bahwa saya kesana mau minjem tangga! ohhhh tante hot itu menyuruh gw mengambil di belakang rumahnya, trus gw langsung pergi kebelakang rumahnya dan sampai disana gw diambilin handuk sama tante itu dan langsung menyerahkan kepada gw handuk tersebut! dan obrolan pun terjadi dan dia mulai curhat ama gw dan akhirnya dia mengatakan sudah mau bercerai sama om tetangga gw itu abisnya dia bilang kesepian banget ditinggal berbisnis terus dan darisanalah cerita dewasa ini terjadi kawan kawan!

 

ngentot memek tante girang bugil ngentot memek tante girang bugil

gw pun menawarkan jasa seks untuk selingkuh dengan istri om tetangga gw itu dan si tante manis dan hot ini ternyata bersedia gw ajakin selingkuh dan kisah ngentot pun dimulai pas waktu itu! gw mulai melepas satu persatu pakaian seksi tante hot tersebut dan akhirnya tante girang itupun akhirnya bugil telanjang, gw udah ga tahan udah kepingin ngentot dan menjilatin memek tante yang menjadi tetangga gw sendiri ini, dia mulai menyepong kontol gw rasa sepongannya maknyus banget ni tante bugil pintar dan berpengalaman banget dalam mengulum kontol gw! setelah puas dikulum gw pun mulai memuaskan nafsu tante girang ini gw mulai menjilat toked, memek dan seluruh tubuh tante yang belum terlalu dewasa ini! pelayanan tante ini hot banget pelayanannya sangat memuaskan kontol dan nafsu gw! sunguh nikmat rasanya bisa selingkuh & ngentot  memek tante tetangga telanjang hot ini

mohon maff  cerita dewasa ngentot memek tante girang tetangga yang hot ini ini disingkat kisahnya disini

NGENTOT MEMEK CWK BUGIL

Maret 1, 2011

Pernah atau pengen ngerasain nikmatnya Ngentot Memek Cewek Blesteran???hohoho pasti jarang sekali ada orang yang pernah ngentot  cewek bugil blesteran kerana emang sulit dijumpai cewek blesteran yang mw ngentot bareng orang lokal lho! kecuali saya yang pernah ngentot cewek bugil blesteran itu pun tanpa disengaja kerana cewek bugil blesteran itu udah teler abis alias mabuk parah di sebuah bar di kuta bali! nampaknya dia sudah on kerana inex makanya dia bersedia saya ajak untuk saya eksekusex di hotel tempat dia menginap!

gambar ngentot memek 17tahun blesterangambar ngentot memek 17tahun blesteran

Pengen Juga kan ngentot memek gadis telanjang blesteran 17 tahun ini??wow mainya hot habis bro! blowjobnya mantabs sampai2 blom main gw udah hampir langsung croot di mulut cewek setengah bule dan setengah lokal ini! warna tokednya pink bro wow bikin gw nafsu banget liat payudaranya apalagi ni cewek bugil blesteran baru berusia 17 tahun tapi sich kayaknya memek nya sudah ga perawan lagi dech! abisnya kontol gw gampang banget masuk memeknya! reaksinya diapun ga terlalu begitu wah……hihihi mungkin sering ngentot ama bule kali yah makananya pas ngentot bareng gw ga begitu terasa di memek nya yang indah dan bulunya yang begitu rapi dan blom terlalu lebat!enak banget jilatin tu memek gadis blesteran yang super hot!

 

photo ngentot memek cewek bugil blesteranphoto ngentot memek cewek bugil blesteran

Gadis blesteranbugil itu tampil dengan berbagai gaya bugil nampaknya dia sudah kepengen banget ngentot!  melihat bentuk dan warna tubuhnya yang indah pasti membuat setiap pria yang sedang melihatnya photo bugil telanjang akan mengundang selera untuk ngentot dan menjilati seluruh tubuhnya! dapatkan koleksi gambar bugil cewek blestaran diatas sedang ngentot dengan gw hanya di situs  ini!

ASIKNYA NGENTOT ANAK SMA

Maret 1, 2011

pernahkan anda merasakan asyiknya ngentot memek anak sma 17 tahun!kalau belum pernah merasakan  asyiknya ataukenikmatan atau ngentot anak SMU bugil memek 17tahun berikut saya punya oleh2 cerita ngentot sama anak yang masih SMA dah masih berumur 17 tahun dia blom dewasa tapi pengalaman bercintanya sunguh luar biasa! dia profesional banget servicenya sunguh sunguh sangat memuaskan dia layak dapat bintang, mungkinkah nantinya dia akan menjadi ikon dunia sex di indonesia ini?sama seperti miyabi yang sukses mengukir kariernya di dunia perfilm bokep an international.

gambar memek bugil anak smu 17-tahungambar memek bugil anak smu 17-tahun

Bagaimana gambar memek gadis bugil anak smu yang masih 17 tahun diatas?? mantabs bukan?? pasti anda sudah ga sabar untuk melihat ni cewek sma untuk bungil dan melihat secara langsung bagaimana bentuk bulu dan memek anak SMA ini?hihihi…saya aja ga sabar pengen ngeliatanya! meliat aja udah membuat kontol gw ngaceng apalagi ngebayangin bagaimana rasanya bisa ngentot bareng sama anak SMA yang sangat cantik dan hot itu!pasti enak sekali rasanya bukan bisa asyiknya jilatin memek ni cewek smu!

gambar ngentot anak sma memek 17-tahungambar ngentot anak sma memek 17-tahun

waduhhhhsial sunguh sial ternyata si gadis cewek sma ini sudah ada yang punya bos! dia peliaharaan om om kaya! liat aja gambarnya dia lagi mesra mesra an sama om oom yang memiliharanya!ternyata dia habis ngentot sama om diatas! sunguh malang sekali nasib anak smu itu musti melayani setiap hari nafsu bejat om diatas! dapatkan gambar ngentot memek anak sma 17 tahun diatas sedang ngentot bareng orang tua diatas tanpa sensor hanya disini

MEMEK BASAH SETELAH NGENTOT

Maret 1, 2011

waduhhh coba perhatikan gambar memek gadis bugil setelah di entot ini! opsttt ternyata memeknya basah saudara2ku pecinta ngentot memek! dan ternyata cewek telanjang ini habis dientotin sama pacarnya!hihihihi…pantesan aja basah memeknya ya! emang ga dicuci ya memeknya setelah ngentot neng?tidak bang tidak ada air katanya!wakakakakakaka……

cerita ngentot memek basah ini emang lucu masa habis ngentot ga dicuci tu liang vagina nya!ihhhh cantik cantik jorok juga ni cewek!tapi mau kan kalau di kasi ngentotin tu memek biarpun masih basah ? pasti mau kan saya aja mau kemarin ngentotin tu memek basahnya abis udah ga tahan sich ngeliat tu cewek pake rok mini trus CD aka celana dalamnya keliatan trus isi ngerokok lagi di depan saya! langsung aja gw ajakin dia ngentot dan tawar harga tu memek basah senilai 300 ribu ehhh tu cewek ternyata mau tapi setelah pacarnya pergi katanya!

ohhhhhh… ternyata enak banget ngentot sama gadis yang memeknya sudah basah lo! dia udah horney banget dan ga perlu lagi kita muasin ngisep memeknya lagi tiagal langsung tancapkan tu senjata kita ke lubang memeknya!mantabs bisa croot di dalam memeknya lagi! waduhhh pengalam paling asik dech ngentot ni cewek telanjang!ga rugi gw bayar mahal mahal!

PUTRI IBU KOST BERMAIN CINTA BASAH

Maret 1, 2011

Waktu itu usiaku 23 tahun. Aku duduk di tingkat akhir suatu
perguruan tinggi teknik di kota Bandung. Wajahku ganteng.
Badanku tinggi dan tegap, mungkin karena aku selalu
berolahraga seminggu tiga kali. Teman-Âtemanku bilang, kalau
aku bermobil pasti banyak cewek yang dengan sukahati menempel
padaku. Aku sendiri sudah punya pacar. Kami pacaran secara
serius. Baik orang tuaku maupun orang tuanya sudah setuju kami
nanti menikah. Tempat kos-ku dan tempat kos-nya hanya berjarak
sekitar 700 m. Aku sendiri sudah dipegangi kunci kamar kosnya.
Walaupun demikian bukan berarti aku sudah berpacaran tanpa
batas dengannya. Dalam masalah pacaran, kami sudah saling
cium-ciuman, gumul-gumulan, dan remas-remasan. Namun semua itu
kami lakukan dengan masih berpakaian. Toh walaupun hanya
begitu, kalau “voltase”-ku sudah amat tinggi, aku dapat
“muntah” juga. Dia adalah seorang yang menjaga keperawanan
sampai dengan menikah, karena itu dia tidak mau berhubungan
sex sebelum menikah. Aku menghargai prinsipnya tersebut.
Karena aku belum pernah pacaran sebelumnya, maka sampai saat
itu aku belum pernah merasakan memek perempuan.

Pacarku seorang anak bungsu. Kecuali kolokan, dia juga seorang
penakut, sehingga sampai jam 10 malam minta ditemani. Sehabis
mandi sore, aku pergi ke kosnya. Sampai dia berangkat tidur.
aku belajar atau menulis tugas akhir dan dia belajar atau
mengerjakan tugas-tugas kuliahnya di ruang tamu. Kamar kos-nya
sendiri berukuran cukup besar, yakni 3mX6m. Kamar sebesar itu
disekat dengan triplex menjadi ruang tamu dengan ukuran
3mX2.5m dan ruang tidur dengan ukuran 3mX3.5m. Lobang pintu di
antara kedua ruang itu hanya ditutup dengan kain korden.

lbu kost-nya mempunyai empat anak, semua perempuan. Semua
manis-manis sebagaimana kebanyakan perempuan Sunda. Anak yang
pertama sudah menikah, anak yang kedua duduk di kelas 3 SMA,
anak ketiga kelas I SMA, dan anak bungsu masih di SMP. Menurut
desas-desus yang sampai di telingaku, menikahnya anak pertama
adalah karena hamil duluan. Kemudian anak yang kedua pun sudah
mempunyai prestasi. Nama panggilannya Ika. Dia dikabarkan
sudah pernah hamil dengan pacarya, namun digugurkan. Menurut
penilaianku, Ika seorang playgirl. Walaupun sudah punya pacar,
pacarnya kuliah di suatu politeknik, namun dia suka mejeng dan
menggoda laki-laki lain yang kelihatan keren. Kalau aku datang
ke kos pacarku, dia pun suka mejeng dan bersikap genit dalam
menyapaku.

lka memang mojang Sunda yang amat aduhai. Usianya akan 18
tahun. Tingginya 160 cm. Kulitnya berwarna kuning langsat dan
kelihatan licin. Badannya kenyal dan berisi. Pinggangnya
ramping. Buah dadanya padat dan besar membusung. Pinggulnya
besar, kecuali melebar dengan indahnya juga pantatnya
membusung dengan montoknya. Untuk gadis seusia dia, mungkin
payudara dan pinggul yang sudah terbentuk sedemikian indahnya
karena terbiasa dinaiki dan digumuli oleh pacarnya. Paha dan
betisnya bagus dan mulus. Lehernya jenjang. Matanya bagus.
Hidungnya mungil dan sedikit mancung. Bibirnya mempunyai garis
yang sexy dan sensual, sehingga kalau memakai lipstik tidak
perlu membuat garis baru, tinggal mengikuti batas bibir yang
sudah ada. Rambutnya lebat yang dipotong bob dengan indahnya.

Sore itu sehabis mandi aku ke kos pacarku seperti biasanya. Di
teras rumah tampak Ika sedang mengobrol dengan dua orang
adiknya. Ika mengenakan baju atas “you can see” dan rok span
yang pendek dan ketat sehingga lengan, paha dan betisnya yang
mulus itu dipertontonkan dengan jelasnya.

“Mas Bob, ngapel ke Mbak Dina? Wah.. sedang nggak ada tuh.
Tadi pergi sama dua temannya. Katanya mau bikin tugas,” sapa
Ika dengan centilnya.

“He.. masa?” balasku.

“Iya.. Sudah, ngapelin Ika sajalah Mas Bob,” kata Ika dengan
senyum menggoda. Edan! Cewek Sunda satu ini benar-benar
menggoda hasrat. Kalau mau mengajak beneran aku tidak menolak
nih, he-he-he..

“Ah, neng Ika macam-macam saja..,” tanggapanku sok menjaga
wibawa. “Kak Dai belum datang?”

Pacar Ika namanya Daniel, namun Ika memanggilnya Kak Dai.
Mungkin Dai adalah panggilan akrab atau panggilan masa kecil
si Daniel. Daniel berasal dan Bogor. Dia ngapeli anak yang
masih SMA macam minum obat saja. Dan pulang kuliah sampai
malam hari. Lebih hebat dan aku, dan selama ngapel waktu dia
habiskan untuk ngobrol. Atau kalau setelah waktu isya, dia
masuk ke kamar Ika. Kapan dia punya kesempatan belajar?

“Wah.. dua bulan ini saya menjadi singgel lagi. Kak Dai lagi
kerja praktek di Riau. Makanya carikan teman Mas Bob buat
menemani Ika dong, biar Ika tidak kesepian.. Tapi yang keren
lho,” kata Ika dengan suara yang amat manja. Edan si playgirl
Sunda mi. Dia bukan tipe orang yang ngomong begitu bukan
sekedar bercanda, namun tipe orang yang suka
nyerempet-nyerempet hat yang berbahaya.

“Neng Ika ini.. Nanti Kak Dai-nya ngamuk dong.”

“Kak Dai kan tidak akan tahu..”

Aku kembali memaki dalam hati. Perempuan Sunda macam Ika ini
memang enak ditiduri. Enak ..digenjot dan dinikmati kekenyalan
bagian-bagian tubuhnya.

Aku mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar kos Dina. Di
atas meja pendek di ruang tamu ada sehelai memo dari Dina.
Sambil membuka jendela ruang depan dan ruang tidur, kubaca isi
memo tadi. “Mas Bobby, gue ngerjain tugas kelompok bersama
Niken dan Wiwin. Tugasnya banyak, jadi gue malam ini tidak
pulang. Gue tidur di rumah Wiwin. Di kulkas ada jeruk, ambil
saja. Soen sayang, Dina”

Aku mengambil bukuku yang sehari-harinya kutinggal di tempat
kos Di. Sambil menyetel radio dengan suara perlahan, aku mulai
membaca buku itu. Biarlah aku belajar di situ sampai jam
sepuluh malam.

Sedang asyik belajar, sekitar jam setengah sembilan malam
pintu diketok dan luar. Tok-tok-tok..

Kusingkapkan korden jendela ruang tamu yang telah kututup pada
jam delapan malam tadi, sesuai dengan kebiasaan pacarku.
Sepertinya Ika yang berdiri di depan pintu.

“Mbak Di.. Mbak Dina..,” terdengar suara Ika memanggil-manggil
dan luar. Aku membuka pintu.

“Mbak Dina sudah pulang?” tanya Ika.

“Belum. Hari ini Dina tidak pulang. Tidur di rumah temannya
karena banyak tugas. Ada apa?”

“Mau pinjam kalkulator, mas Bob. Sebentar saja. Buat bikin
pe-er.”

“Ng.. bolehlah. Pakai kalkulatorku saja, asal cepat kembali.”

“Beres deh mas Bob. Ika berjanji,” kata Ika dengan genit.
Bibirnya tersenyum manis, dan pandang matanya menggoda
menggemaskan.

Kuberikan kalkulatorku pada Ika. Ketika berbalik, kutatap
tajam-tajam tubuhnya yang aduhai. Pinggulnya yang melebar dan
montok itu menggial ke kiri-kanan, seolah menantang diriku
untuk meremasÂ-remasnya. Sialan! Kontholku jadi berdiri. Si
“boy-ku” ini responsif sekali kalau ada cewek cakep yang enak
digenjot.

Sepeninggal Ika, sesaat aku tidak dapat berkonsentrasi. Namun
kemudian kuusir pikiran yang tidak-tidak itu. Kuteruskan
kembali membaca textbook yang menunjang penulisan tugas
sarjana itu.

Tok-tok-tok! Baru sekitar limabelas menit pintu kembali
diketok.

“Mas Bob.. Mas Bob..,” terdengar Ika memanggil lirih.

Pintu kubuka. Mendadak kontholku mengeras lagi. Di depan pintu
berdiri Ika dengan senyum genitnya. Bajunya bukan atasan “you
can see” yang dipakai sebelumnya. Dia menggunakan baju yang
hanya setinggi separuh dada dengan ikatan tali ke pundaknya.
Baju tersebut berwarna kuning muda dan berbahan mengkilat.
Dadanya tampak membusung dengan gagahnya, yang ujungnya
menonjol dengan tajam dan batik bajunya. Sepertinya dia tidak
memakai BH. Juga, bau harum sekarang terpancar dan tubuhnya.
Tadi, bau parfum harum semacam ini tidak tercium sama sekali,
berarti datang yang kali ini si Ika menyempatkan diri memakai
parfum. Kali ini bibirnya pun dipolesi lipstik pink.

“Ini kalkulatornya, Mas Bob,” kata Ika manja, membuyarkan
keterpanaanku.

“Sudah selesai. Neng Ika?” tanyaku basa-basi.

“Sudah Mas Bob, namun boleh Ika minta diajari Matematika?”

“0, boleh saja kalau sekiranya bisa.”

Tanpa kupersilakan Ika menyelonong masuk dan membuka buku
matematika di atas meja tamu yang rendah. Ruang tamu kamar kos
pacarku itu tanpa kursi. Hanya digelari karpet tebal dan
sebuah meja pendek dengan di salah satu sisinya terpasang rak
buku. Aku pun duduk di hadapannya, sementara pintu masuk
tertutup dengan sendirinya dengan perlahan. Memang pintu kamar
kos pacarku kalau mau disengaja terbuka harus diganjal
potongan kayu kecil.

“Ini mas Bob, Ika ada soal tentang bunga majemuk yang tidak
tahu cara penyelesaiannya.” Ika mencari-cari halaman buku yang
akan ditanyakannya.

Menunggu halaman itu ditemukan, mataku mencari kesempatan
melihat ke dadanya. Amboi! Benar, Ika tidak memakai bra. Dalam
posisi agak menunduk, kedua gundukan payudaranya kelihatan
sangat jelas. Sungguh padat, mulus, dan indah. Kontholku
terasa mengeras dan sedikit berdenyut-denyut.

Halaman yang dicari ketemu. Ika dengan centilnya membaca soal
tersebut. Soalnya cukup mudah. Aku menerangkan sedikit dan
memberitahu rumusnya, kemudian Ika menghitungnya. Sambil
menunggu Ika menghitung, mataku mencuri pandang ke buah dada
Ika. Uhhh.. ranum dan segarnya.

“Kok sepi? Mamah, Ema, dan Nur sudah tidur?” tanyaku sambil
menelan ludah. Kalau bapaknya tidak aku tanyakan karena dia
bekerja di Cirebon yang pulangnya setiap akhir pekan.

“Sudah. Mamah sudah tidur jam setengah delapan tadi. Kemudian
Erna dan Nur berangkat tidur waktu Ika bermain-main kalkulator
tadi,” jawab Ika dengan tatapan mata yang menggoda.

Hasratku mulai naik. Kenapa tidak kusetubuhi saja si Ika.
Mumpung sepi. Orang-orang di rumahnya sudah tidur. Kamar kos
sebelah sudah sepi dan sudah mati lampunya. Berarti
penghuninya juga sudah tidur. Kalau kupaksa dia meladeni
hasratku, tenaganya tidak akan berarti dalam melawanku. Tetapi
mengapa …dia akan melawanku? jangan-jangan dia ke sini justru
ingin bersetubuh denganku. Soal tanya Matematika, itu hanya
sebagai atasan saja. Bukankah dia menyempatkan ganti baju,
dari atasan you can see ke atasan yang memamerkan separuh
payudaranya? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan
tidak memakai bra? Bukankah dia datang lagi dengan
menyempatkan memakai parfum dan lipstik? Apa lagi artinya
kalau tidak menyodorkan din?

Tiba-tiba Ika bangkit dan duduk di sebelah kananku.

“Mas Bob.. ini benar nggak?” tanya Ika.

Ada kekeliruan di tengah jalan saat Ika menghitung. Antara
konsentrasi dan menahan nafsu yang tengah berkecamuk, aku
mengambil pensil dan menjelaskan kekeliruannya. Tiba-tiba Ika
lebih mendekat ke arahku, seolah mau memperhatikan hal yang
kujelaskan dan jarak yang lebih dekat. Akibatnya.. gumpalan
daging yang membusung di dadanya itu menekan lengan tangan
kananku. Terasa hangat dan lunak, namun ketika dia lebih
menekanku terasa lebih kenyal.

Dengan sengaja lenganku kutekankan ke payudaranya.

“Ih.. Mas Bob nakal deh tangannya,” katanya sambil merengut
manja. Dia pura-pura menjauh.

“Lho, yang salah kan Neng Ika duluan. Buah dadanya
menyodok-nyodok lenganku,” jawabku.

lka cemberut. Dia mengambil buku dan kembali duduk di
hadapanku. Dia terlihat kembali membetulkan yang kesalahan,
namun menurut perasaanku itu hanya berpura-pura saja. Aku
merasa semakin ditantang. Kenapa aku tidak berani? Memangnya
aku impoten? Dia sudah berani datang ke sini malam-malam
sendirian. Dia menyempatkan pakai parfum. Dia sengaja memakai
baju atasan yang memamerkan gundukan payudara. Dia sengaja
tidak pakai bra. Artinya, dia sudah mempersilakan diriku untuk
menikmati kemolekan tubuhnya. Tinggal aku yang jadi
penentunya, mau menyia-siakan kesempatan yang dia berikan atau
memanfaatkannya. Kalau aku menyia-siakan berarti aku band!

Aku pun bangkit. Aku berdiri di atas lutut dan mendekatinya
dari belakang. Aku pura-pura mengawasi dia dalam mengerjakan
soal. Padahal mataku mengawasi tubuhnya dari belakang. Kulit
punggung dan lengannya benar-benar mulus, tanpa goresan
sedikitpun. Karena padat tubuhnya, kulit yang kuning langsat
itu tampak licin mengkilap walaupun ditumbuhi oleh bulu-bulu
rambut yang halus.

Kemudian aku menempelkan kontholku yang menegang ke
punggungnya. Ika sedikit terkejut ketika merasa ada yang
menempel punggungnya.

“Ih.. Mas Bob jangan begitu dong..,” kata Ika manja.

“Sudah.. udah-udah.. Aku sekedar mengawasi pekerjaan Neng
Ika,” jawabku.

lka cemberut. Namun dengan cemberut begitu, bibir yang sensual
itu malah tampak menggemaskan. Sungguh sedap sekali bila
dikulum-kulum dan dilumat-lumat. Ika berpura-pura meneruskan
pekerjaannya. Aku semakin berani. Kontholku kutekankan ke
punggungnya yang kenyal. Ika menggelinjang. Tidak tahan lagi.
Tubuh Ika kurengkuh dan kurebahkan di atas karpet. Bibirnya
kulumat-lumat, sementara kulit punggungnya kuremas-remas.
Bibir Ika mengadakan perlawanan, mengimbangi kuluman-Âkuluman
bibirku yang diselingi dengan permainan lidahnya. Terlihat
bahkan dalam masalah ciuman Ika yang masih kelas tiga SMA
sudah sangat mahir. Bahkan mengalahkan kemahiranku.

Beberapa saat kemudian ciumanku berpindah ke lehernya yang
jenjang. Bau harum terpancar dan kulitnya. Sambil
kusedot-sedot kulit lehernya dengan hidungku, tanganku
berpindah ke buah dadanya. Buah dada yang tidak dilindungi bra
itu terasa kenyal dalam remasan tanganku. Kadang-kadang dan
batik kain licin baju atasannya, putingnya kutekan-tekan dan
kupelintir-pelintir dengan jari-jari tanganku. Puting itu
terasa mengeras.

“Mas Bob, Mas Bob buka baju saja Mas Bob..,” rintih Ika. Tanpa
menunggu persetujuanku, jari-jari tangannya membuka Ikat
pinggang dan ritsleteng celanaku. Aku mengimbangi, tali baju
atasannya kulepas dan baju tersebut kubebaskan dan tubuhnya.
Aku terpana melihat kemulusan tubuh atasnya tanpa penutup
sehelai kain pun. Buah dadanya yang padat membusung dengan
indahnya. Ditimpa sinar lampu neon ruang tamu, payudaranya
kelihatan amat mulus dan licin. Putingnya berdiri tegak di
ujung gumpalan payudara. Putingnya berwarna pink
kecoklat-coklatan, sementara puncak bukit payudara di
sekitarnya berwarna coklat tua dan sedikit menggembung
dibanding dengan permukaan kulit payudaranya.

Celana panjang yang sudah dibuka oleh Ika kulepas dengan
segera. Menyusul. kemeja dan kaos singlet kulepas dan tubuhku.
Kini aku cuma tertutup oleh celana dalamku, sementara Ika
tertutup oleh rok span ketat yang mempertontonkan bentuk
pinggangnya yang ramping dan bentuk pinggulnya yang melebar
dengan bagusnya. Ika pun melepaskan rok spannya itu, sehingga
pinggul yang indah itu kini hanya terbungkus celana dalam
minim yang tipis dan berwarna pink. Di daerah bawah perutnya,
celana dalam itu tidak mampu menyembunyikan warna hitam dari
jembut lebat Ika yang terbungkus di dalamnya. Juga, beberapa
.helai jembut Ika tampak keluar dan lobang celana dalamnya.

lka memandangi dadaku yang bidang. Kemudian dia memandang ke
arah kontholku yang besar dan panjang, yang menonjol dari
balik celana dalamku. Pandangan matanya memancarkan nafsu yang
sudah menggelegak. Perlahan aku mendekatkan badanku ke
badannya yang sudah terbaring pasrah. Kupeluk tubuhnya sambil
mengulum kembali bibirnya yang hangat. Ika pun mengimbanginya.
Dia memeluk leherku sambil membalas kuluman di bibirnya.
Payudaranya pun menekan dadaku. Payudara itu terasa kenyal dan
lembut. Putingnya yang mengeras terasa benar menekan dadaku.
Aku dan Ika saling mengulum bibir, saling menekankan dada, dan
saling meremas kulit punggung dengan penuh nafsu.

Ciumanku berpindah ke leher Ika. Leher mulus yang memancarkan
keharuman parfum yang segar itu kugumuli dengan bibir dan
hidungku. Ika mendongakkan dagunya agar aku dapat menciumi
segenap pori-pori kulit lehernya.

“Ahhh.. Mas Bob.. Ika sudah menginginkannya dan kemarin..
Gelutilah tubuh Ika.. puasin Ika ya Mas Bob..,” bisik Ika
terpatah-patah.

Aku menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahku bergerak
ke arah payudaranya. Payudaranya begitu menggembung dan padat.
namun berkulit lembut. Bau keharuman yang segar terpancar dan
pori-porinya. Agaknya Ika tadi sengaja memakai parfum di
sekujur payudaranya sebelum datang ke sini. Aku menghirup
kuat-kuat lembah di antara kedua bukit payudaranya itu.
Kemudian wajahku kugesek-gesekkan di kedua bukit payudara itu
secara bergantian, sambil hidungku terus menghirup keharuman
yang terpancar dan kulit payudara. Puncak bukit payudara
kanannya pun kulahap dalam mulutku. Kusedot kuat-kuat payudara
itu sehingga daging yang masuk ke dalam mulutku menjadi
sebesar-besarnya. Ika menggelinjang.

“Mas Bob.. ngilu.. ngilu..,” rintih Ika.

Gelinjang dan rintihan Ika itu semakin membangkitkan hasratku.
Kuremas bukit payudara sebelah kirinya dengan gemasnya,
sementara puting payudara kanannya kumainkan dengan ujung
lidahku. Puting itu kadang kugencet dengan tekanan ujung lidah
dengan gigi. Kemudian secara mendadak kusedot kembali payudara
kanan itu kuat-kuat. sementara jari tanganku menekan dan
memelintir puting payudara kirinya. Ika semakin
menggelinjang-gelinjang seperti ikan belut yang memburu
makanan sambil mulutnya mendesah-desah.

“Aduh mas Booob.. ssshh.. ssshhh.. ngilu mas Booob.. ssshhh..
geli.. geli..,” cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar
dan mulutnya yang merangsang.

Aku tidak puas dengan hanya menggeluti payudara kanannya. Kini
mulutku berganti menggeluti payudara kiri. sementara tanganku
meremas-remas payudara kanannya kuat-kuat. Kalau payudara
kirinya kusedot kuat-kuat. tanganku memijit-mijit dan
memelintir-pelintir puting payudara kanannya. Sedang bila gigi
dan ujung lidahku menekan-nekan puting payudara kiri, tanganku
meremas sebesar-besarnya payudara kanannya dengan
sekuat-kuatnya.

“Mas Booob.. kamu nakal… ssshhh.. ssshhh.. ngilu mas Booob..
geli..” Ika tidak henti-hentinya menggelinjang dan mendesah
manja.

Setelah puas dengan payudara, aku meneruskan permainan lidah
ke arah perut Ika yang rata dan berkulit amat mulus itu.
Mulutku berhenti di daerah pusarnya. Aku pun berkonsentrasi
mengecupi bagian pusarnya. Sementara kedua telapak tanganku
menyusup ke belakang dan meremas-remas pantatnya yang melebar
dan menggembung padat. Kedua tanganku menyelip ke dalam celana
yang melindungi pantatnya itu. PerlahanÂ-lahan celana dalamnya
kupelorotkan ke bawah. Ika sedikit mengangkat pantatnya untuk
memberi kemudahan celana dalamnya lepas. Dan dengan sekali
sentakan kakinya, celana dalamnya sudah terlempar ke bawah.

Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang luar biasa
merangsangnya. Jembut Ika sungguh lebat dan subur sekali.
Jembut itu mengitari bibir memek yang berwarna coklat tua.
Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar pusarnya,
tanganku mengelus-elus pahanya yang berkulit licin dan mulus.
Elusanku pun ke arah dalam dan merangkak naik. Sampailah
jari-jari tanganku di tepi kiri-kanan bibir luar memeknya.
Tanganku pun mengelus-elus memeknya dengan dua jariku bergerak
dan bawah ke atas. Dengan mata terpejam, Ika berinisiatif
meremas-remas payudaranya sendiri. Tampak jelas kalau Ika
sangat menikmati permainan ini.

Perlahan kusibak bibir memek Ika dengan ibu jari dan
telunjukku mengarah ke atas sampai kelentitnya menongol
keluar. Wajahku bergerak ke memeknya, sementara tanganku
kembali memegangi payudaranya. Kujilati kelentit Ika
perlahan-lahan dengan jilatan-jilatan pendek dan
terputus-putus sambil satu tanganku mempermainkan puting
payudaranya.

“Au Mas Bob.. shhhhh.. betul.. betul di situ mas Bob.. di
situ.. enak mas.. shhhh..,” Ika mendesah-desah sambil matanya
merem-melek. Bulu alisnya yang tebal dan indah bergerak ke
atas-bawah mengimbangi gerakan merem-meleknya mata. Keningnya
pun berkerut pertanda dia sedang mengalami kenikmatan yang
semakin …meninggi.

Aku meneruskan permainan lidah dengan melakukan
jilatan-jilatan panjang dan lubang anus sampai ke kelentitnya.

Karena gerakan ujung hidungku pun secara berkala menyentuh
memek Ika. Terasa benar bahkan dinding vaginanya mulai basah.
Bahkan sebagian cairan vaginanya mulai mengalir hingga
mencapai lubang anusnya. Sesekali pinggulnya bergetar. Di saat
bergetar itu pinggulnya yang padat dan amat mulus kuremas
kuat-kuat sambil ujung hidungku kutusukkan ke lobang memeknya.

“Mas Booob.. enak sekali mas Bob..,” Ika mengerang dengan
kerasnya. Aku segera memfokuskan jilatan-jilatan lidah serta
tusukan-tusukan ujung hidung di vaginanya. Semakin lama vagina
itu semakin basah saja. Dua jari tanganku lalu kumasukkan ke
lobang memeknya. Setelah masuk hampir semuanya, jari
kubengkokkan ke arah atas dengan tekanan yang cukup terasa
agar kena “G-spot”-nya. Dan berhasil!

“Auwww.. mas Bob..!” jerit Ika sambil menyentakkan pantat ke
atas. sampai-sampai jari tangan yang sudah terbenam di dalam
memek terlepas. Perut bawahnya yang ditumbuhi bulu-bulu jembut
hitam yang lebat itu pun menghantam ke wajahku. Bau harum dan
bau khas cairan vaginanya merasuk ke sel-sel syaraf
penciumanku.

Aku segera memasukkan kembali dua jariku ke dalam vagina Ika
dan melakukan gerakan yang sama. Kali ini aku mengimbangi
gerakan jariku dengan permainan lidah di kelentit Ika.
Kelentit itu tampak semakin menonjol sehingga gampang bagiku
untuk menjilat dan mengisapnya. Ketika kelentit itu aku
gelitiki dengan lidah serta kuisap-isap perlahan, Ika semakin
keras merintih-rintih bagaikan orang yang sedang mengalami
sakit demam. Sementara pinggulnya yang amat aduhai itu
menggial ke kiri-kanan dengan sangat merangsangnya.

“Mas Bob.. mas Bob.. mas Bob..,” hanya kata-kata itu yang
dapat diucapkan Ika karena menahan kenikmatan yang semakin
menjadi-jadi.

Permainan jari-jariku dan lidahku di memeknya semakin
bertambah ganas. Ika sambil mengerangÂ-erang dan
menggeliat-geliat meremas apa saja yang dapat dia raih.
Meremas rambut kepalaku, meremas bahuku, dan meremas
payudaranya sendiri.

“Mas Bob.. Ika sudah tidak tahan lagi.. Masukin konthol saja
mas Bob.. Ohhh.. sekarang juga mas Bob..! Sshhh. . . ,”
erangnya sambil menahan nafsu yang sudah menguasai segenap
tubuhnya.

Namun aku tidak perduli. Kusengaja untuk mempermainkan Ika
terlebih dahulu. Aku mau membuatnya orgasme, sementara aku
masih segar bugar. Karena itu lidah dan wajahku kujauhkan dan
memeknya. Kemudian kocokan dua jari tanganku di dalam memeknya
semakin kupercepat. Gerakan jari tanganku yang di dalam
memeknya ke atas-bawah, sampai terasa ujung jariku
menghentak-hentak dinding atasnya secara perlahan-lahan.
Sementara ibu jariku mengusap-usap dan menghentak-hentak
kelentitnya. Gerakan jari tanganku di memeknya yang basah itu
sampai menimbulkan suara crrk-crrrk-crrrk-crrk crrrk..
Sementara dan mulut Ika keluar pekikan-pekikan kecil yang
terputus-putus:

“Ah-ah-ah-ah-ah..”

Sementara aku semakin memperdahsyat kocokan jari-jariku di
memeknya, sambil memandangi wajahnya. Mata Ika merem-melek,
sementara keningnya berkerut-kerut.

Crrrk! Crrrk! Crrek! Crek! Crek! Crok! Crok! Suara yang keluar
dan kocokan jariku di memeknya semakin terdengar keras. Aku
mempertahankan kocokan tersebut. Dua menit sudah si Ika mampu
bertahan sambil mengeluarkan jeritan-jeritan yang
membangkitkan nafsu. Payudaranya tampak semakin kencang dan
licin, sedang putingnya tampak berdiri dengan tegangnya.

Sampai akhirnya tubuh Ika mengejang hebat. Pantatnya terangkat
tinggi-tinggi. Matanya membeliak-Âbeliak. Dan bibirnya yang
sensual itu keluar jeritan hebat, “Mas Booo00oob..!” Dua
jariku yang tertanam di dalam vagina Ika terasa dijepit oleh
dindingnya dengan kuatnya. Seiring dengan keluar masuknya
jariku dalam vaginanya, dan sela-sela celah antara tanganku
dengan bibir memeknya terpancarlah semprotan cairan vaginanya
dengan kuatnya. Prut! Prut! Pruttt! Semprotan cairan tersebut
sampai mencapai pergelangan tanganku.

Beberapa detik kemudian Ika terbaring lemas di atas karpet.
Matanya memejam rapat. Tampaknya dia baru saja mengalami
orgasme yang begitu hebat. Kocokan jari tanganku di vaginanya
pun kuhentikan. Kubiarkan jari tertanam dalam vaginanya sampai
jepitan dinding vaginanya terasa lemah. Setelah lemah. jari
tangan kucabut dan memeknya. Cairan vagina yang terkumpul di
telapak tanganku pun kubersihkan dengan kertas tissue.

Ketegangan kontholku belum juga mau berkurang. Apalagi tubuh
telanjang Ika yang terbaring diam di hadapanku itu benar-benar
aduhai. seolah menantang diriku untuk membuktikan kejantananku
pada tubuh mulusnya. Aku pun mulai menindih kembali tubuh Ika,
sehingga kontholku yang masih di dalam celana dalam tergencet
oleh perut bawahku dan perut bawahnya dengan enaknya.
Sementara bibirku mengulum-kulum kembali bibir hangat Ika,
sambil tanganku meremas-remas payudara dan …mempermainkan
putingnya. Ika kembali membuka mata dan mengimbangi serangan
bibirku. Tubuhnya kembali menggelinjang-gelinjang karena
menahan rasa geli dan ngilu di payudaranya.

Setelah puas melumat-lumat bibir. wajahku pun menyusuri leher
Ika yang mulus dan harum hingga akhirnya mencapai belahan
dadanya. Wajahku kemudian menggeluti belahan payudaranya yang
berkulit lembut dan halus, sementara kedua tanganku
meremas-remas kedua belah payudaranya. Segala kelembutan dan
keharuman belahan dada itu kukecupi dengan bibirku. Segala
keharuman yang terpancar dan belahan payudara itu kuhirup
kuat-kuat dengan hidungku, seolah tidak rela apabila ada
keharuman yang terlewatkan sedikitpun.

Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan payudara itu.
Kemudian bibirku bergerak ke atas bukit payudara sebelah kiri.
Kuciumi bukit payudara yang membusung dengan gagahnya itu. Dan
kumasukkan puting payudara di atasnya ke dalam mulutku. Kini
aku menyedot-sedot puting payudara kiri Ika. Kumainkan puting
di dalam mulutku itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar
ke puncak bukit payudara di sekitar puting yang berwarna
coklat.

“Ah.. ah.. mas Bob.. geli.. geli ..,” mulut indah Ika
mendesis-desis sambil menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan.
bagaikan desisan ular kelaparan yang sedang mencari mangsa.

Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas-remas
payudara kanan Ika yang montok dan kenyal itu. Kadang remasan
kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak bukitnya, dan kuakhiri
dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada
putingnya.

“Mas Bob.. hhh.. geli.. geli.. enak.. enak.. ngilu.. ngilu..”

Aku semakin gemas. Payudara aduhai Ika itu kumainkan secara
bergantian, antara sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit
payudara kadang kusedot besarnya-besarnya dengan tenaga isap
sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot hanya putingnya dan
kucepit dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang
kuremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan
sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan
kupelintir-pelintir kecil puting yang mencuat gagah di
puncaknya.

“Ah.. mas Bob.. terus mas Bob.. terus.. hzzz.. ngilu..
ngilu..” Ika mendesis-desis keenakan. Hasratnya tampak sudah
kembali tinggi. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan
tubuhnya ke kanan-kini semakin sening fnekuensinya.

Sampai akhirnya Ika tidak kuat mehayani senangan-senangan
keduaku. Dia dengan gerakan eepat memehorotkan celana dalamku
hingga tunun ke paha. Aku memaklumi maksudnya, segera kulepas
eelana dalamku. Jan-jari tangan kanan Ika yang mulus dan
lembut kemudian menangkap kontholku yang sudah berdiri dengan
gagahnya. Sejenak dia memperlihatkan rasa terkejut.

“Edan.. mas Bob, edan.. Kontholmu besar sekali.. Konthol
pacar-pacarku dahulu dan juga konthol kak Dai tidak sampai
sebesar ini Edan.. edan..,” ucapnya terkagum-kagum. Sambil
membiankan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan
menggeluti kedua belah payudaranya, jan-jari lentik tangan
kanannya meremasÂremas perlahan kontholku secara berirama,
seolah berusaha mencari kehangatan dan kenikmatan di hatinya
menahan kejantananku. Remasannya itu memperhebat vothase dan
rasa nikmat pada batang kontholku.

“Mas Bob, kita main di atas kasur saja..,” ajak Ika dengan
sinar mata yang sudah dikuasai nafsu birahi.

Aku pun membopong tubuh telanjang Ika ke ruang dalam, dan
membaringkannya di atas tempat tidun pacarku. Ranjang pacarku
ini amat pendek, dasan kasurnya hanya terangkat sekitar 6
centimeter dari lantai. Ketika kubopong. Ika tidak mau
melepaskan tangannya dari leherku. Bahkan, begitu tubuhnya
menyentuh kasur, tangannya menarik wajahku mendekat ke
wajahnya. Tak ayal lagi, bibirnya yang pink menekan itu
melumat bibirku dengan ganasnya. Aku pun tidak mau mengalah.
Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu yang menggelora, sementara
tanganku mendekap tubuhnya dengan kuatnya. Kupeluk punggungnya
yang halus mulus kuremas-remas dengan gemasnya.

Kemudian aku menindih tubuh Ika. Kontholku terjepit di antara
pangkal pahanya yang mulus dan perut bawahku sendiri.
Kehangatan kulit pahanya mengalir ke batang kontholku yang
tegang dan keras. Bibirku kemudian melepaskan bibir sensual
Ika. Kecupan bibirku pun turun. Kukecup dagu Ika yang bagus.
Kukecup leher jenjang Ika yang memancarkan bau wangi dan
segarnya parfum yang dia pakai. Kuciumi dan kugeluti leher
indah itu dengan wajahku, sementara pantatku mulai bergerak
aktif sehingga kontholku menekan dan menggesek-gesek paha Ika.
Gesekan di kulit paha yang licin itu membuat batang kontholku
bagai diplirit-plirit. Kepala kontholku merasa geli-geli enak
oleh gesekan-gesekan paha Ika.

Puas menggeluti leher indah, wajahku pun turun ke buah dada
montok Ika. Dengan gemas dan ganasnya aku membenamkan wajahku
ke belahan dadanya, sementara kedua tanganku meraup kedua
belah payudaranya dan menekannya ke arah wajahku. Keharuman
payudaranya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas dengan
…menyungsep ke belahan dadanya, wajahku kini menggesek-gesek
memutar sehingga kedua gunung payudaranya tertekan-tekan oleh
wajahku secara bergantian. Sungguh sedap sekali rasanya ketika
hidungku menyentuh dan menghirup dalam-dalam daging payudara
yang besar dan kenyal itu. Kemudian bibirku meraup puncak
bukit payudara kiri Ika. Daerah payudara yang
kecoklat-coklatan beserta putingnya yang pink
kecoklat-coklatan itu pun masuk dalam mulutku. Kulahap ujung
payudara dan putingnya itu dengan bernafsunya, tak ubahnya
seperti bayi yang menetek susu setelah kelaparan selama
seharian. Di dalam mulutku, puting itu kukulum-kulum dan
kumainkan dengan lidahku.

“Mas Bob.. geli.. geli ..,” kata Ika kegelian.

Aku tidak perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit
payudara Ika. Putingnya terasa di lidahku menjadi keras.
Kemudian aku kembali melahap puncak bukit payudara itu
sebesar-besarnya. Apa yang masuk dalam mulutku kusedot
sekuat-kuatnya. Sementara payudara sebelah kanannya kuremas
sekuat-kuatnya dengan tanganku. Hal tersebut kulakukan secara
bergantian antara payudara kiri dan payudara kanan Ika.
Sementara kontholku semakin menekan dan menggesek-gesek dengan
beriramanya di kulit pahanya. Ika semakin
menggelinjang-gelinjang dengan hebatnya.

“Mas Bob.. mas Bob.. ngilu.. ngilu.. hihhh.. nakal sekali
tangan dan mulutmu.. Auw! Sssh.. ngilu.. ngilu..,” rintih Ika.
Rintihannya itu justru semakin mengipasi api nafsuku. Api
nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin ganas aku
mengisap-isap dan meremas-remas payudara montoknya. Sementara
kontholku berdenyut-denyut keenakan merasakan hangat dan
licinnya paha Ika.

Akhirnya aku tidak sabar lagi. Kulepaskan payudara montok Ika
dari gelutan mulut dan tanganku. Bibirku kini berpindah
menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku membimbing
kontholku untuk mencari liang memeknya. Kuputar-putarkan
dahulu kepala kontholku di kelebatan jembut di sekitar bibir
memek Ika. Bulu-bulu jembut itu bagaikan menggelitiki kepala
kontholku. Kepala kontholku pun kegelian. Geli tetapi enak.

“Mas Bob.. masukkan seluruhnya mas Bob.. masukkan seluruhnya..
Mas Bob belum pernah merasakan memek Mbak Dina kan? Mbak Dina
orang kuno.. tidak mau merasakan konthol sebelum nikah.
Padahal itu surga dunia.. bagai terhempas langit ke langit
ketujuh. mas Bob..”

Jari-jari tangan Ika yang lentik meraih batang kontholku yang
sudah amat tegang. Pahanya yang mulus itu dia buka agak lebar.

“Edan.. edan.. kontholmu besar dan keras sekali, mas Bob..,”
katanya sambil mengarahkan kepala kontholku ke lobang
memeknya.

Sesaat kemudian kepala kontholku menyentuh bibir memeknya yang
sudah basah. Kemudian dengan perlahan-lahan dan sambil
kugetarkan, konthol kutekankan masuk ke liang memek. Kini
seluruh kepala kontholku pun terbenam di dalam memek. Daging
hangat berlendir kini terasa mengulum kepala kontholku dengan
enaknya.

Aku menghentikan gerak masuk kontholku.

“Mas Bob.. teruskan masuk, Bob.. Sssh.. enak.. jangan berhenti
sampai situ saja..,” Ika protes atas tindakanku. Namun aku
tidak perduli. Kubiarkan kontholku hanya masuk ke lobang
memeknya hanya sebatas kepalanya saja, namun kontholku
kugetarkan dengan amplituda kecil. Sementara bibir dan
hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya yang jenjang,
lengan tangannya yang harum dan mulus, dari ketiaknya yang
bersih dari bulu ketiak. Ika menggelinjang-gelinjang dengan
tidak karuan.

“Sssh.. sssh.. enak.. enak.. geli.. geli, mas Bob. Geli..
Terus masuk, mas Bob..”

Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat.
Sementara gerakan kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan..
satu.. dua.. tiga! Kontholku kutusukkan sedalam-dalamnya ke
dalam memek Ika dengan sangat cepat dan kuatnya. Plak! Pangkal
pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang mulus yang sedang
dalam posisi agak membuka dengan kerasnya. Sementara kulit
batang kontholku bagaikan diplirit oleh bibir dan daging
lobang memeknya yang sudah basah dengan kuatnya sampai
menimbulkan bunyi: srrrt!

“Auwww!” pekik Ika.

Aku diam sesaat, membiarkan kontholku tertanam seluruhnya di
dalam memek Ika tanpa bergerak sedikit pun.

“Sakit mas Bob.. Nakal sekali kamu.. nakal sekali kamu…”
kata Ika sambil tangannya meremas punggungku dengan kerasnya.

Aku pun mulai menggerakkan kontholku keluar-masuk memek Ika.
Aku tidak tahu, apakah kontholku yang berukuran panjang dan
besar ataukah lubang memek Ika yang berukuran kecil. Yang saya
tahu, seluruh bagian kontholku yang masuk memeknya serasa
dipijit-pijit dinding lobang memeknya dengan agak kuatnya.
Pijitan dinding memek itu memberi rasa hangat dan nikmat pada
batang kontholku.

“Bagaimana Ika, sakit?” tanyaku

“Sssh.. enak sekali.. enak sekali.. Barangmu besar dan panjang
sekali.. sampai-sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lobang
memekku..,” jawab Ika.

Aku terus memompa memek ..Ika dengan kontholku perlahan-lahan.
Payudara kenyalnya yang menempel di dadaku ikut terpilin-pilin
oleh dadaku akibat gerakan memompa tadi. Kedua putingnya yang
sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku yang bidang.
Kehangatan payudaranya yang montok itu mulai terasa mengalir
ke dadaku. Kontholku serasa diremas-remas dengan berirama oleh
otot-otot memeknya sejalan dengan genjotanku tersebut. Terasa
hangat dan enak sekali. Sementara setiap kali menusuk masuk
kepala kontholku menyentuh suatu daging hangat di dalam memek
Ika. Sentuhan tersebut serasa menggelitiki kepala konthol
sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.

Kemudian aku mengambil kedua kakinya yang kuning langsat mulus
dan mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontholku tidak
tercabut dari lobang memeknya, aku mengambil posisi agak
jongkok. Betis kanan Ika kutumpangkan di atas bahuku,
sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus
mengocok memeknya perlahan dengan kontholku, betis kirinya
yang amat indah itu kuciumi dan kukecupi dengan gemasnya.
Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang
kuciumi dan kugeluti, sementara betis kirinya kutumpangkan ke
atas bahuku. Begitu hal tersebut kulakukan beberapa kali
secara bergantian, sambil mempertahankan rasa nikmat di
kontholku dengan mempertahankan gerakan maju-mundur
perlahannya di memek Ika.

Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua
betisnya di bahuku, sementara kedua telapak tanganku meraup
kedua belah payudaranya. Masih dengan kocokan konthol perlahan
di memeknya, tanganku meremas-remas payudara montok Ika. Kedua
gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama.
Kadang kedua putingnya kugencet dan kupelintir-pelintir secara
perlahan. Puting itu semakin mengeras, dan bukit payudara itu
semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Ika pun
merintih-rintih keenakan. Matanya merem-melek, dan alisnya
mengimbanginya dengan sedikit gerakan tarikan ke atas dan ke
bawah.

“Ah.. mas Bob, geli.. geli.. Tobat.. tobat.. Ngilu mas Bob,
ngilu.. Sssh.. sssh.. terus mas Bob, terus.. Edan.. edan..
kontholmu membuat memekku merasa enak sekali… Nanti jangan
disemprotkan di luar memek, mas Bob. Nyemprot di dalam saja..
aku sedang tidak subur…�

Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontholku di memek
Ika.

“Ah-ah-ah.. benar, mas Bob. benar.. yang cepat.. Terus mas
Bob, terus..”

Aku bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihan Ika.
tenagaku menjadi berlipat ganda. Kutingkatkan kecepatan
keluar-masuk kontholku di memek Ika. Terus dan terus. Seluruh
bagian kontholku serasa diremasÂ-remas dengan cepatnya oleh
daging-daging hangat di dalam memek Ika. Mata Ika menjadi
merem-melek dengan cepat dan indahnya. Begitu juga diriku,
mataku pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa
keenakan yang luar biasa.

“Sssh.. sssh.. Ika.. enak sekali.. enak sekali memekmu.. enak
sekali memekmu..”

“Ya mas Bob, aku juga merasa enak sekali.. terusss.. terus mas
Bob, terusss..”

Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontholku pada
memeknya. Kontholku terasa bagai diremas-remas dengan tidak
karu-karuan.

“Mas Bob.. mas Bob.. edan mas Bob, edan.. sssh.. sssh..
Terus.. terus.. Saya hampir keluar nih mas Bob.. sedikit
lagi.. kita keluar sama-sama ya Booob..,” Ika jadi mengoceh
tanpa kendali.

Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau keluar. Namun aku
harus membuatnya keluar duluan. Biar perempuan Sunda yang
molek satu ini tahu bahwa lelaki Jawa itu perkasa. Biar dia
mengakui kejantanan orang Jawa yang bernama mas Bobby.
Sementara kontholku merasakan daging-daging hangat di dalam
memek Ika bagaikan berdenyut dengan hebatnya.

“Mas Bob.. mas Bobby.. mas Bobby..,” rintih Ika. Telapak
tangannya memegang kedua lengan tanganku seolah mencari
pegangan di batang pohon karena takut jatuh ke bawah.

Ibarat pembalap, aku mengayuh sepeda balapku dengan semakin
cepatnya. Bedanya, dibandingkan dengan pembalap aku lebih
beruntung. Di dalam “mengayuh sepeda” aku merasakan keenakan
yang luar biasa di sekujur kontholku. Sepedaku pun mempunyai
daya tarik tersendiri karena mengeluarkan rintihan-rintihan
keenakan yang tiada terkira.

“Mas Bob.. ah-ah-ah-ah-ah.. Enak mas Bob, enak..
Ah-ah-ah-ah-ah.. Mau keluar mas Bob.. mau keluar..
ah-ah-ah-ah-ah.. sekarang ke-ke-ke..”

Tiba-tiba kurasakan kontholku dijepit oleh dinding memek Ika
dengan sangat kuatnya. Di dalam memek, kontholku merasa
disemprot oleh cairan yang keluar dari memek Ika dengan cukup
derasnya. Dan telapak tangan Ika meremas lengan tanganku
dengan sangat kuatnya. Mulut sensual Ika pun berteriak tanpa
kendali:

“..keluarrr..!”

Mata Ika membeliak-beliak. Sekejap tubuh Ika kurasakan
mengejang.

Aku pun menghentikan genjotanku. Kontholku yang tegang luar
biasa kubiarkan diam tertanam dalam memek Ika. Kontholku
merasa hangat luar biasa karena terkena semprotan cairan …memek
Ika. Kulihat mata Ika kemudian memejam beberapa saat dalam
menikmati puncak orgasmenya.

Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada
lenganku perlahan-lahan mengendur. Kelopak matanya pun
membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan dinding
memeknya pada kontholku berangsur-angsur melemah. walaupun
kontholku masih tegang dan keras. Kedua kaki Ika lalu
kuletakkan kembali di atas kasur dengan posisi agak membuka.
Aku kembali menindih tubuh telanjang Ika dengan mempertahankan
agar kontholku yang tertanam di dalam memeknya tidak tercabut.

“Mas Bob.. kamu luar biasa.. kamu membawaku ke langit ke
tujuh,” kata Ika dengan mimik wajah penuh kepuasan. “Kak Dai
dan pacar-pacarku yang dulu tidak pernah membuat aku ke puncak
orgasme seperti ml. Sejak Mbak Dina tinggal di sini, Ika suka
membenarkan mas Bob saat berhubungan dengan Kak Dai.”

Aku senang mendengar pengakuan Ika itu. berarti selama aku
tidak bertepuk sebelah tangan. Aku selalu membayangkan
kemolekan tubuh Ika dalam masturbasiku, sementara dia juga
membayangkan kugeluti dalam onaninya. Bagiku. Dina bagus
dijadikan istri dan ibu anak-anakku kelak, namun tidak dapat
dipungkiri bahwa tubuh aduhai Ika enak digeluti dan digenjot
dengan penuh nafsu.

“Mas Bob… kamu seperti yang kubayangkan. Kamu jantan.. kamu
perkasa.. dan kamu berhasil membawaku ke puncak orgasme. Luar
biasa nikmatnya..”

Aku bangga mendengar ucapan Ika. Dadaku serasa mengembang. Dan
bagai anak kecil yang suka pujian, aku ingin menunjukkan bahwa
aku lebih perkasa dari dugaannya. Perempuan Sunda ini harus
kewalahan menghadapi genjotanku. Perempuan Sunda ini harus
mengakui kejantanan dan keperkasaanku. Kebetulan aku saat ini
baru setengah perjalanan pendakianku di saat Ika sudah
mencapai orgasmenya. Kontholku masih tegang di dalam memeknya.
Kontholku masih besar dan keras, yang harus menyemprotkan
pelurunya agar kepalaku tidak pusing.

Aku kembali mendekap tubuh mulus Ika, yang di bawah sinar
lampu kuning kulit tubuhnya tampak sangat mulus dan licin.
Kontholku mulai bergerak keluar-masuk lagi di memek Ika, namun
masih dengan gerakan perlahan. Dinding memek Ika secara
berargsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontholku. Terasa
hangat dan enak. Namun sekarang gerakan kontholku lebih lancar
dibandingkan dengan tadi. Pasti karena adanya cairan orgasme
yang disemprotkan oleh memek Ika beberapa saat yang lalu.

“Ahhh.. mas Bob.. kau langsung memulainya lagi.. Sekarang
giliranmu.. semprotkan air manimu ke dinding-dinding memekku..
Sssh..,” Ika mulai mendesis-desis lagi.

Bibirku mulai memagut bibir merekah Ika yang amat sensual itu
dan melumat-lumatnya dengan gemasnya. Sementara tangan kiriku
ikut menyangga berat badanku, tangan kananku meremas-remas
payudara montok Ika serta memijit-mijit putingnya, sesuai
dengan mama gerak maju-mundur kontholku di memeknya.

“Sssh.. sssh.. sssh.. enak mas Bob, enak.. Terus.. teruss..
terusss..,” desis bibir Ika di saat berhasil melepaskannya
dari serbuan bibirku. Desisan itu bagaikan mengipasi gelora
api birahiku.

Sambil kembali melumat bibir Ika dengan kuatnya, aku
mempercepat genjotan kontholku di memeknya. Pengaruh adanya
cairan di dalam memek Ika, keluar-masuknya konthol pun
diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret..”
Mulut Ika di saat terbebas dari lumatan bibirku tidak
henti-hentinya mengeluarkan rintih kenikmatan,

“Mas Bob.. ah.. mas Bob.. ah.. mas Bob.. hhb.. mas Bob..
ahh..”

Kontholku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari
payudaranya. Kedua tanganku kini dari ketiak Ika menyusup ke
bawah dan memeluk punggung mulusnya. Tangan Ika pun memeluk
punggungku dan mengusap-usapnya. Aku pun memulai serangan
dahsyatku. Keluar-masuknya kontholku ke dalam memek Ika
sekarang berlangsung dengan cepat dan berirama. Setiap kali
masuk, konthol kuhunjamkan keras-keras agar menusuk memek Ika
sedalam-dalamnya. Dalam perjalanannya, batang kontholku bagai
diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding memek Ika.
Sampai di langkah terdalam, mata Ika membeliak sambil bibirnya
mengeluarkan seruan tertahan, “Ak..!” Sementara daging pangkal
pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya sampai
berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar memek, konthol kujaga
agar kepalanya yang mengenakan helm tetap tertanam di lobang
memek. Remasan dinding memek pada batang kontholku pada gerak
keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak
masuknya. Bibir memek yang mengulum batang kontholku pun
sedikit ikut tertarik keluar, seolah tidak rela bila sampai
ditinggal keluar oleh batang kontholku. Pada gerak keluar ini
Bibir Ika mendesah, “Hhh..”

Aku terus menggenjot memek Ika dengan gerakan cepat dan
menghentak-hentak. Remasan yang luar biasa kuat, hangat, dan
enak sekali bekerja di kontholku. Tangan Ika meremas
punggungku kuat-kuat di saat kontholku kuhunjam masuk
sejauh-jauhnya ke lobang memeknya. beradunya daging pangkal
paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak! …Pergeseran
antara kontholku dan memek Ika menimbulkan bunyi
srottt-srrrt.. srottt-srrrt.. srottt-srrrtt.. Kedua nada
tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil yang merdu
yang keluar dari bibir Ika:

“Ak! Uhh.. Ak! Hhh.. Ak! Hhh..”

Kontholku terasa empot-empotan luar biasa. Rasa hangat, geli,
dan enak yang tiada tara membuatku tidak kuasa menahan
pekikan-pekikan kecil:

“Ika.. Ika.. edan.. edan.. Enak sekali Ika.. Memekmu enak
sekali.. Memekmu hangat sekali.. edan.. jepitan memekmu enak
sekali..”

“Mas Bob.. mas Bob.. terus mas Bob..” rintih Ika, “Enak mas
Bob.. enaaak.. Ak! Ak! Ak! Hhh.. Ak! Hhh.. Ak! Hhh..”

Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontholku.
Gatal yang enak sekali. Aku pun mengocokkan kontholku ke
memeknya dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap masuk ke
dalam, kontholku berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih
cepat lagi dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal
dan rasa enak yang luar biasa di konthol pun semakin
menghebat.

“Ika.. aku.. aku..” Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang
luar biasa aku tidak mampu menyelesaikan ucapanku yang memang
sudah terbata-bata itu.

“Mas Bob.. mas Bob.. mas Bob! Ak-ak-ak.. Aku mau keluar lagi..
Ak-ak-ak.. aku ke-ke-ke..”

Tiba-tiba kontholku mengejang dan berdenyut dengan amat
dahsyatnya. Aku tidak mampu lagi menahan rasa gatal yang sudah
mencapai puncaknya. Namun pada saat itu juga tiba-tiba dinding
memek Ika mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan
enak sekali itu. aku tidak mampu lagi menahan jebolnya
bendungan dalam alat kelaminku.

Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontholku terasa disemprot
cairan memek Ika, bersamaan dengan pekikan Ika,
“..keluarrrr..!” Tubuh Ika mengejang dengan mata
membeliak-beliak.

“Ika..!” aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Ika
sekuat-kuatnya, seolah aku sedang berusaha rnenemukkan
tulang-tulang punggungnya dalam kegemasan. Wajahku kubenamkan
kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Cairan spermaku pun tak
terbendung lagi.

Crottt! Crott! Croat! Spermaku bersemburan dengan derasnya,
menyemprot dinding memek Ika yang terdalam. Kontholku yang
terbenam semua di dalam kehangatan memek Ika terasa
berdenyut-denyut.

Beberapa saat lamanya aku dan Ika terdiam dalam keadaan
berpelukan erat sekali, sampai-sampai dari alat kemaluan,
perut, hingga ke payudaranya seolah terpateri erat dengan
tubuh depanku. Aku menghabiskan sisa-sisa sperma dalam
kontholku. Cret! Cret! Cret! Kontholku menyemprotkan lagi air
mani yang masih tersisa ke dalam memek Ika. Kali ini
semprotannya lebih lemah.

Perlahan-lahan tubuh Ika dan tubuhku pun mengendur kembali.
Aku kemudian menciumi leher mulus Ika dengan lembutnya,
sementara tangan Ika mengusap-usap punggungku dan
mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali berhasil
bermain seks dengan Ika. Pertama kali aku bermain seks,
bidadari lawan mainku adalah perempuan Sunda yang bertubuh
kenyal, berkulit kuning langsat mulus, berpayudara besar dan
padat, berpinggang ramping, dan berpinggul besar serta aduhai.
Tidak rugi air maniku diperas habis-habisan pada pengalaman
pertama ini oleh orang semolek Ika.

“Mas Bob.. terima kasih mas Bob. Puas sekali saya. Indah
sekali.. sungguh.. enak sekali,” kata Ika lirih.

Aku tidak memberi kata tanggapan. Sebagai jawaban, bibirnya
yang indah itu kukecup mesra. Dalam keadaan tetap telanjang,
kami berdekapan erat di atas tempat tidur pacarku. Dia
meletakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang, sedang
tangannya melingkar ke badanku. Baru ketika jam dinding
menunjukkan pukul 22:00, aku dan Ika berpakaian kembali. Ika
sudah tahu kebiasaanku dalam mengapeli Dina, bahwa pukul 22:00
aku pulang ke tempat kost-ku sendiri.

Sebelum keluar kamar, aku mendekap erat tubuh Ika dan
melumat-lumat bibirnya beberapa saat.

“Mas Bob.. kapan-kapan kita mengulangi lagi ya mas Bob..
Jangan khawatir, kita tanpa Ikatan. Ika akan selalu
merahasiakan hal ini kepada siapapun, termasuk ke Kak Dai dan
Mbak Dina. Ika puas sekali bercumbu dengan mas Bob,” begitu
kata Ika.

Aku pun mengangguk tanda setuju. Siapa sih yang tidak mau
diberi kenikmatan secara gratis dan tanpa ikatan? Akhirnya dia
keluar dari kamar dan kembali masuk ke rumahnya lewat pintu
samping. Lima menit kemudian aku baru pulang ke tempat
kost-ku.

SEX PRIVATE TEACHER

Maret 1, 2011

Tiba-tiba Tante menarik tanganku, aku langsung berdiri mengikuti langkahnya memasuki kamarku. Masih terkaget-kaget Aku ketika menutup pintu kamar dan langsung menguncinya.
“Jangan ditutup, buka dikit aja…”kata Tante.
Tante langsung ke balik pintu dan bersender ke dinding. Tanpa perintah Aku langsung mendekatinya, dan hendak mencium bibirnya.
“Jangan cium….”
Aku baru ingat, Tante sudah berdandan. Kalau kucium lipstik di bibirnya akan habis dan akan jadi pertanyaan Oom.
Aku rabai dan remas2 dadanya. Tangan Tante lalu membuka rits celanaku dan mengeluarkan isinya. Dengan beberapa kali elusan saja penisku sudah membesar tegang dan keras siap tempur.

Lalu Tante melepaskan sendiri celana dalamnya, mengangkat roknya dan juga sebelah kakinya.
“Ayo….masukin…. gak banyak waktu….”katanya
Akupun masuk….
Aku memompa….
Bibir Tante terkatub rapat, bahkan telapak tangannya ikut menutup mulutnya, khawatir membuat suara2 aneh.
Enak juga melakukan hubungan seks sambil berdiri begini…
Aku cuma membuka rits dan menurunkan celana dalam, sedangkan Tante hanya celana dalamnya saja yang dilepas, pakaian lainnya tetap ditempatnya. Bagiku ini suatu sensasi baru….

Dengan pintu yang sedikit terbuka maka bila ada orang yang turun tangga akan kedengaran. Tante sempat menghentikan pompaanku ketika seolah-olah terdengar suara langkah kaki di tangga. Ternyata bukan. Pompa lagi…

Entah karena melakukan sambil takut2 begini atau karena lama Aku tak melakukan hubungan seks, maka kurasakan Aku hampir “nyampai”, tidak selama seperti biasanya. Cepat-cepat Aku cabut dan kutembakkan ke dinding. Tante cepat-cepat menghindar khawatir pakaiannya terciprat maniku.

Tubuhku tersandar ke dinding, lemas. Dari lubang penisku masih menetes maniku. Sementara Tante mencari-cari tissu dan sibuk mengelap selangkangannya. Dipakainya lagi celana dalamnya, lalu mengintip dulu sebelum dia keluar pintu kamarku. Pintu langsung kututup dan kurebahkan tubuhku ke kasur, lemas dan puas … !

***

Dua bulan sebelumnya …

Kuketuk pintu, beberapa menit Aku menunggu belum ada yang membukakan. Rupanya pintu ini ada belnya, kupencet. Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan mucullah seorang wanita amat cantik, putih bersih menatapku, tersirat sebersit kecurigaan. Roman wajahnya mengingatkanku pada foto tante Lina, tapi wanita ini lebih muda dari yang kubayangkan.
“Saya Didin, bu”kataku
“Didin… anaknya Kang Sastra?”
“Benar, Bu”
Mendadak roman muka wanita ini berubah menjadi amat ramah.
“Ayo masuk…. tak kusangka kamu udah gede gini….”

Jelas saja, dia melihatku terakhir adalah waktu aku umur 10 tahun, enam tahun lalu sewaktu Oom dan Tanteku ini baru saja menikah. Menurut perasaanku tanteku ini tak berubah dibanding 6 tahun lalu, tetap cantik dan muda. Ya, hanya cantik dan muda itu saja kesanku pada tanteku ini, sebab sebagai pemuda desa, aku belum tahu apapun tentang wanita. Kalau pertemuan ini terjadi sekarang tentu kesan itu akan bertambah dengan tubuh langsing tinggi, pinggang ramping, perut amat rata, kulit putih bersih dan mulus, pinggul tak begitu lebar tapi kedua bongkahan pantat yang membulat dan “membonceng” ke belakang, dan …. kedua bulatan di dada yang tegak kencang menantang. Rok span pendek yang ngepas dipadu dengan blouse yang ngepas juga menambah kemudaan tanteku ini. Tapi waktu itu kesanku hanya tanteku ini cantik dan ramah. Aku sama sekali tak memperhatikan keunggulan lainnya, maklum waktu itu masih lugu dan polos.

“Gimana kabar Kang Sastra dan Teh Is?” Itu nama ayah dan ibuku.
“Baik2 saja, Bu” jawabku sopan.
“Aku ini tantemu, panggil aja Tante ya…”
“Baik bu, eh…Tante”
Lalu seorang perempuan muda datang mengantar minuman jeruk yang dingin dan enak, dikenalkannya sebagai Marni, pembantu tante. Perempuan ini mungkin hanya satu atau dua tahun lebih tua dariku. Asalnya dari jawa Tengah, maka aku memanggilnya dengan Mbak Mar.

“Ayo Tante tunjukin kamarmu, bawa tasmu sekalian”
Mbak Mar yang mau mengangkat ranselku aku cegah.
“Biar saya bawa sendiri, mbak”
Kusambar ranselku, satu2nya bawaanku (dan “harta”ku) dari desa.
Dari ruang tamu Aku mengikuti tante ke ruang tengah yang luas, lalu ada kamar yang pintunya tertutup, dan ke arah belakang sedikit lagi ada kamar yang pintunya terbuka. Tante masuk ke kamar ini, aku mengikuinya.
“Ini kamarmu… mudah2an kamu betah”
Kamarku? Wow…. mewah sekali. Tentu saja bandinganku adalah kamarku di desa yang sederhana, juga kamar kawan2ku SMP di desa.
“Bagus sekali Tante… terima kasih”

Ada dipan yang berkasur, terlalu mewah bagiku yang biasanya tidur di atas tikar berdua dengan adikku. Ada lemari pakaian, dan ada rak buku lumayan lebar yang nempel di dinding. Rak yang penuh dengan buku2, berkas2, dan entah apa lagi. Di pojok ada pintu lagi, aku buka ternyata kamar mandi. Gila, Oom dan Tante memberiku kamar yang ada kamar mandi di dalamnya. Sungguh amat mewah bagiku.

.

…Kuletakkan ransel di bawah lalu Aku duduk di tempat tidur.
“Buku2 di rak ini nanti kamu rapikan, jadi nanti ada ruang buat naruh buku2 kamu”kata Tante. Lalu dia duduk di kursi dekat meja belajar persis di depanku, kakinya disilangkan dan sekejap pahanya terbuka, putih sekali… Waktu itu tak ada reaksi apapun pada diriku.
“Sekarang kamu istirahat dulu…. capek kan naik bis semaleman…”
Tante beranjak menuju ke pintu keluar, cepat-cepat Aku ke pintu untuk membukakannya. Pintu belum terbuka seluruhnya Tante sudah melaluinya sehingga pantatnya bergesekkan dengan pahaku, padat sekali….
Aku ingat benar waktu itu kedua kejadian itu tak berpengaruh sama sekali terhadapku. Kalau saja terjadi sekarang, bisa-bisa ….

Kubongkar ranselku, kumasukkan pakaianku yang cuma beberapa lembar ke lemari pakaian, beres. Tak ada lagi yang bisa kukerjakan, orang semuanya sudah rapi. Kalaupun ingin beres2 mungkin rak buku itu yang isinya agak tak beraturan. Kelihatannya itu buku2 milik Oom.

***

Hari Minggu hari pertama Aku di tempat baru, masih serasa canggung. Pendaftaran ke SMUN XX baru dibuka Senin besok. Kerja apa Aku ? Kalau di desa sih jelas ke kebun bantu2 ayah sampai menjelang magrib, dan sangat menguras enerji. Kalau disini, masa Aku cuman nganggur2 aja ?

Kubawa sepasang pakaian kotorku ke belakang, maksudku mau mencuci saja, kalau ada pakaian kotor yang lain biar aku cuci sekalian. Aku ke belakang mencari-cari tempat cucian gak ketemu. Bingung. Bahkan pakaian kotorpun tak ada. Tante datang.
“Nyari apa Din…”
“Eh….Tante, saya mau nyuci baju”
“Udah, kasih aja ke Si Mar. Mar…!”
“Ya Bu…”
Mbak Mar muncul dari belakang dengan tergopoh-gopoh.
“Tolong pakaian Mas Didin sekalian dicuci”
“Saya cuci sendiri aja Tante”
“Gak usahlah…”
“Sini Mas…”kata mBak Mar. Dia mengambil pakaianku dari tanganku, lalu dimasukkan ke suatu kotak di sudut. Ternyata itu mesin cuci. Pantesan gak ada tempat cuci yang berbentuk papan bergerigi seperti di rumahku di desa. Dasar anak desa…
Aku jadi ter-bengong2, mau kerja apa aku ? Mau bersih2 di belakangpun dilarang sama Tante.
“Udah ke depan sana, ada Oom tuh…”
Aku ke ruang tengah, ada Oom yang sedang duduk di sofa baca koran.
“Selamat pagi Oom”
“Eh, kamu Din, sini …. duduk sini…”

Oom banyak tanya tentang kehidupanku di desa. Aku ceritakan semuanya. Tante lalu bergabung duduk disamping Oom. Tante merebahkan tubuhnya ke badan Oom dan Oom melingkarkan lengannya memeluk Tante. Mereka berdua benar2 mesra… dan suami-isteri ini begitu baiknya. Aku jadi merasa amat nyaman tinggal di keluarga ini.

Aku ke depan rumah menemui laki-laki setengah baya yang sedang kerja di taman, ingin berkenalan sekalian bantu2.
“Selamat pagi Pak”
“Eh…Aden, baru datang dari Jawa ya?”
“Iya Pak, bapak namanya siapa?
“Panggil aja saya Mang, nama saya Pendi”
“Panggil saja saya Didin…”
Aku bantu membereskan tanaman meskipun Mang Pendi melarangku.
“Saya udah biasa kerja di kebon, Mang”kataku.
Baru sekitar sejam Aku membantu rupanya Si Mang merasa gak enak. Dia terus memaksaku untuk berhenti membantunya. Aku mengalah, lalu masuk kembali ke rumah.
Ngapain lagi ya ?
Oh iya, beres2 isi rak buku. Aku mulai dari seretan rak yang paling atas. Kuturunkan seluruh isinya lalu secara bertahap kususun kembali sampai rapi.

Ketika aku mulai merapikan deretan kedua dari atas, ada lembar2 gambar yang menarik perhatianku. Kuambil dan …. ada 3 lembar ketas cetakan mengkilap berwarna, sobekan dari majalah, kayanya. dari tulisannya aku menduga sobekan dari majalah wanita, tentang mode. Lembar wanita menampilkan wanita cantik berpakaian bagus sedang berdiri. Lembar kedua masih wanita tadi dengan baju model lain. Dan lembar ketiga yang membuatku berdebar-debar. Wanita tadi duduk dengan kemeja dan rok yang pendek, yang mempertontonkan sepasang kaki yang panjang, putih, dan mulus. Yang membuatku berdebar adalah separuh paha mulus wanita itu terbuka. Aku belum pernah melihat gambar paha begini, apalagi paha sesungguhnya. Maklum di desaku tak ada majalah begini, yang hanya ada koran lokal. Mungkin Aku pernah melihat paha, paha milik ibu-ibu sehabis mencuci pakaian di sungai yang melewati kebunku. Tapi waktu itu tak ada pengaruh apa-apa, biasa saja. Entah karena paha itu milik perempuan yang tidak muda lagi, atau karena memang belum masanya.

Gambar paha wanita itu seringkali terbayang-bayang di kepalaku. Ada rasa berdesir jika Aku kembali melihat lembar potongan majalah itu. Dan tanpa bisa kucegah, Aku jadi berbeda bila melihat tanteku. Aku jadi membayangkan keindahan paha tanteku walaupun tak terlihat, karena rok tante sampai di lututnya. Aku membayangkan di balik rok itu terdapat sepasang paha mulus seperti gambar di majalah, atau mungkin lebih indah. Oh iya, hari pertama Aku tiba sempat melihat paha ..Tante meskipun hanya sekejap. Kesanku, paha itu begitu putihnya…

Aku mendapatkan penghayatan yang berbeda bila melihat tante. Terus terang ini membuatku gelisah dan merasa bersalah. Tanteku yang begitu baiknya menghidupiku, membayar segala biaya sekolahku, sementara Aku berani “kurang ajar” begini meski hanya dalam bayangan.

Sekolah belum dimulai. Selesai aku menyelesaikan pekerjanku sekitar jam 11 aku duduk di ruang tengah nonton TV. “Pekerjaan” yang kumaksud adalah beres2 taman di halaman depan membantu Mang Pendi, tukang kebun, atau beres2 di belakang membantu mBak Mar.
Ini atas inisiatifku sendiri. Tante sebenarnya tak mengizinkan, juga mang Pendi dan mbak Mar ngerasa tak enak. Tapi aku memaksa membantu pekerjaan mereka karena tak enak aku menumpang di rumah Oom-ku ini tanpa melakukan apa-apa.

Setelah seminggu di rumah ini Aku jadi hafal kegiatan Tante di rumah. Hari Selasa dan Kamis dia keluar rumah pagi untuk senam di sanggar senam, pakai mobil BMWnya dan setir sendiri. Hari lainnya kadang dia keluar juga bersama teman atau tetangga. Kalau tak ada kegiatan dia bangun agak siang.

Siang itu tante sepulang dari senam, menyapaku yang sedang nonton TV kemudian langsung naik tangga ke atas ke kamar utama. Setengah jam kemudian tante turun lagi, kelihatan segar, sehabis mandi. Aku pernah ikut bantu bersih2 kamar Oom-Tante yang luas dan mewah di lantai atas. Di dalam kamar itu juga ada kamar mandi yang luas. Aku baru lihat ada kamar mandi di dalam kamar tidur, jelas di desaku tak ada yang seperti ini.

Tante mengenakan daster santai turun tangga, jantungku berdegup. Sekilas dan sekelebatan dan sesekali paha tante terkuak. Aku lagsung menunduk, tak berani melihat ke tangga. Tapi ketika Tante melewatiku dan lalu membelakangiku, aku mencuri-curi pandang lagi. Sepasang betis putih itu begitu panjang indah dan mulus. Nampak juga bagian belakang dengkul dan sedikit di atasnya. Daster Tante hanya sampai sedikit di atas lutut, tak seperti biasanya yang selutut. Batangku mulai menggeliat.

Pembaca, mengalami batang tegang keras begini terus terang amat jarang, hanya di pagi hari saja. Di desaku dulu alat vitalku hanya tegang kalau di pagi hari habis bangun tidur saja. Sebab hari-hariku selain sekolah juga disibukkan oleh pekerjaan di kebun membantu ayahku. Aku jarang berada sendirian untuk melamun yang menyebabkan tegang seperti biasa dilakukan oleh anak laki seusiaku. Di malam haripun Aku tak ada kesempatan, karena Aku harus berbagi kamar dengan adikku. Sekarang aku punya banyak waktu luang dan sering sendirian.

Tante duduk di sofa tempat dia biasa duduk membaca, letaknya di depanku. Di antara kami hanya ada hamparan karpet tebal, sehingga sepasang kaki dan sebagian paha indah itu terhidang di hadapanku, dan dengan mudah bisa kunikmati sebenarnya, kalau Aku berani memandangnya. Tante nanya2 tentang keadaan sekolah serta teman2 baruku. Selama bicara dengan Tante Aku hanya berani menatap matanya seperti layaknya kalau aku berbicara dengan siapapun. Tak sekalipun pandanganku turun ke bawah, walaupun sebenarnya ingin, takut …

Tapi ada juga kesempatan sekilas2 menikmati pahanya, ketika Tante sedang tak bicara. Aku diuntungkan dengan letak TV. Dibelakang Tante ada lemari/rak yang nempel di dinding. TV ada di rak dinding itu, dari arahku letak TV ada di sebelah kiri Tante. Kalau tak sedang bicara, pandanganku ke TV sambil sekali2 “ngecheck” ke mata Tante. Kalau dia sedang menunduk, mataku bergeser ke bawah menikmati sepasang kaki jenjang dan sebagian paha putih mulusnya, dan kembali ke TV. Toh dari sisiku, menatap TV dan Tante adalah hampir searah pandang. Tak urung peniskupun tegang keras dan memanjang, aku jadi tak berani bergerak dari tempat dudukku. Kalau Aku bangkit berdiri, pasti celanaku menonjol kedepan.

Tante kemudian bangkit dari duduknya. Aku kecewa. Tapi …tidak. Dia hanya mengambil majalah dari meja samping, terus duduk lagi, membaca majalah mode. Duduk santai, kepalanya bersandar pada sandaran sofa, mukanya tertutup oleh majalah yang membuatku makin leluasa “menghayati” kaki dan pahanya. Apalagi saat tertentu dia bergantian menyilangkan kakinya. Saat posisi kaki kiri dia tumpangkan ke kaki kanannya adalah saat yang paling ideal bagiku. Ujung dasternya terangkat ke atas sehingga hampir seluruh paha kirinya bisa kunikmati. Aku makin gelisah …

Malamnya aku susah tidur, bayangan paha Tante tak mau hilang dari kepalaku. Kembali penisku tegang. Kuambil buku novel, kubaca. Memang pikiran beralih, tapi sebentar2 masih saja bayangan paha itu datang. Lama2 aku tertidur juga. Sekitar jam 2 pagi aku terbangun. Rasanya aku bermimpi sesuatu yang enak. Coba kuingat-ingat, tak begitu jelas, sepertinya aku berduaan dengan seorang cewe entah siapa. Lalu cewe itu mengangkat roknya memperlihatkan paha mulusnya, semulus paha Tante. Aku mengusap-usap pahanya dan cewe itu melihat penisku tegang, dan dipegangnya penisku, digenggamnya. Aku merasakan enak luar biasa, dan geli-geli di penisku dan lalu aku ‘kencing’, dan kemudian terbangun.

Aku benar2 merasakan ada yang basah di bawah sana. Kuperiksa celanaku, benar basah, jadi aku “kencing” beneran. Belakangan aku baru tahu bahwa yang kualami tadi malam adalah ..mimpi basah, menandakan Aku memasuki masa pubertas.

SEX PASAR MALAM

Maret 1, 2011

Berniaga di pasar malam bukan menjadi minat aku. Tetapi oleh kerana itu sahaja peluang yang aku ada bersama suami ku maka penat pun tak apalah. Berniaga beberapa bulan rasa seronok tu datang juga kepada aku. Apalah lagi apabila melihat untung yang mendatang. Nasib menjual di pasar malam ni bukan menentu tapi itulah sumber rezeki kami berdua.

Aku dah satu tahun lebih berkahwin dengan suami ku. Belum dapat anak dan kami seronok dengan cara hidup kami. Lama-lama berniaga ni telah menimbulkan tabiat baru pula kepada kami. Paham-paham saja lah apabila balik dari berniaga tentunya tengah malam, kalau tempat tu dekat kami cepat sampai ke rumah tetapi kalau jauh kadang kala pagi baru kami sampai.
Suami aku ni pulak boleh tahan juga kuat seksnya. Oleh kerana itu kami kadang kala berenjut dalam van di tepi jalan saja. Di tempat rehat leboh raya dan kadang kala di tepi air terjun tempat rehat peranginan itu pun kalau kebetulan tak ada orang. Berniaga di pasar malam ni menyebabkan kami sentiasa berada di atas jalan. Oleh itu melakukan hubungan seks di atas van merupakan lumrah bagi kami.

Tabiat suami aku pulak yang aku dapat perhatikan kalau pelanggan yang datang tu ramai yang seksi sebab kami menjual kain, maka malam tu pasti aku akan dikerjakan habis-habisan. Bukan aku tak suka tapi maklumlah buat kerja tepi jalan, kadang-kadang bimbang juga suara aku mengeluh, mengerang dan mejerit tu di dengari orang. Aku pulak bila dah sampai tahap kena talu tu lupa pulak nak kontrol volume.

Satu lagi tabiat pelik suami aku ialah dia sentiasa meminta aku memakai pakaian yang ketat atau seksi semasa menjual. Kalau boleh biarlah buah dada aku ni hampir nak keluar dari leher baju. Kalau boleh biar seluar jeans yang aku pakai tenggelam dalam lurah ponggong aku ketatnya. Kata nya nak lariskan perniagaan. Aku ikut saja. Hasilnya pun menyeronokkan sebab walau pun kami menjual kain untuk kaum hawa sahaja tetapi lelaki pun datang juga membelinya. Tak kurang lah yang menggatal ketika membeli kain tu. Suami aku sporting. Kalu lelaki yang jadi pelanggan, dia akan ke belakang gerai biar aku yang melayan pelanggan. Tapi kalau perempuan yang datang terutama yang seksi tu maka dia lah yang ke depan. Aku terpaksalah buat-buat lipat kain di belakang.

Dalam pemerhatian aku ramai juga jantan yang steam kat aku sebab semasa aku layan mereka kadang kala ada yang ambil peluang menjamah tangan aku. Menyiku buah dada, menggesel balaknya ke ponggong aku terutamanya semasa melihat kain yang aku pamirkan. Bukan suami aku tak tahu tapi dia buat-buat tak tahu. Selalu sangat aku merasa balak yang menggesel belakang atau ponggong aku tu . Kadang kala terasa sangat keras dan bersarnya dan kadang kala tidak lah begitu perasan. Kalau aku di rangsang begitu, pastinya aku pun giankan balak suami aku. Masa tu kalau dia tak bagi pun aku akan minta terutamanya dalam perjalanan pulang. Masatu ganaslah permainan kami.

Aku teringat satu hari seorang pemandu lori mengetuk dinding van kami di perhentian di lebuh raya.. Masa kami mula buat tu, tak ada pun lori dia tetapi setelah kami klimeks, aku pun menjerit agak kuat tiba-tiba saja orang teruk dinding van kami. Suami aku cepat-cepat kenakan pakaian sedang aku terlentang di lantai van.di atas bungkusan lain yang memang kami atur sedemikian rupa agar ada ruang untuk kami bersetubuh cukup dan selesa.
Apabila suami aku keluar dari van pemandu lori itu tersengeh saja.

”Apa hal?” tanya suami aku
“Tumpang sekaki” pinta pemandu tersebut. Suami aku yang hanya berseluar jean masuk semula ke dalam van.
“Pemandu lori tu minta nak main dengan Ana” terang suami ku kepada aku. Pada ketika tu aku duduk bersandar ke dinding van.
“Abang!!! takkan abang nak bagi Ana main dengan orang lain?”
“Abang tak kesah kalau Ana nak”
‘Berapa orang tu bang?”
“Dia seorang saja”

Aku kebingungan. Sambil mengesat air mani suami aku yang masih meleleh dari cipap aku merenong mata suami aku dalam kegelapan.

”Abang tak apa ke?”
“Abang tak kesah”
”Emmm panggilah tapi sekali saja tau”

Suami aku keluar van. Dia menyatakan persetujuan.
Tiba-tiba orang tu tanya “Berapa?”
“Berapa?” tanya suami aku yang tak faham.
“Ya lah RM ..berapa”
Suami aku masuk semula ke dalam van. “Dia tanya berapa ringgit nak kenakan dia?”
Tak pernah pulak aku terfikir tentang bayaran ni. Aku diam sejenak “lima puluh udahlah bang”
Suami aku keluar dari van “lima puluh dan eeeer sekali saja.”

Orang tu keluarkan dompetnya dan menghulurkan not RM50 kepada suami aku. Dia pun merangkak naik ke atas van dan terus ke atas aku sekali yang sudah pun baring semula dengan kaki terkangkang.

Kami bermain cara mudah sahaja. Tak ada mesra-mesra. Balaknya dah cukup keras apabila dia naik ke atas tubuh aku. Besar dan panjang. Namun aku dapat menerimanya dengan mudah sebab telah dilincinkan oleh suami aku sebelum itu.

“Besarnya bang” bisik aku ke telinganya. Dia menghayun dengan perlahan. Aku mengangkat kaki tinggi biar dia masuk dengan lebih dalam …lagi.
“Ohhhh…… “ keluh aku “kerasnya?.” Aku memeluk tubuhnya erat bagaikan bergantungnya darinya supaya tidak terjatuh dari tebing yang tinggi. Hampir 20 minit aku klimeks dan sekali lagi selepas 10 minit berikutnya. Orang yang menyetubuhi aku masih kuat dan steady. Aku tak tanya bila dia nak klimeks Cuma aku mengerang dan mengeluh menikmati pemberiannya.
Aku tak tahu apa yang dibuat oleh suami aku di luar sana dan aku sudah tidak peduli lagi. Cuaca malam yang dingin di tambah dengan air-con van kini tidak memberi kesan lagi. Aku berpeluh dari hujung rambut sampai hujung kaki, paha yang mengangkang kini kian terasa lenguhnya.

”Lagi bangggggg ana nak pancut sekali lagi niiiiii”

Orang itu memperlajukan pergerakannya. Aku tak tahu apa yang harus aku buat lagi. Aku dihayun sepenuhnya padat dan padu. Aku pasti selepas ini aku tidak akan dapat berdiri tegak lagi. Bahagian bawah paha aku bagai tak terasa lagi. Seluruh ransangan aku tertumpu kepada cipap aku yang terus diterjah terus menerus. Aku mengelepar apabila aku pancut kali ke tiga, tangan aku mencekam belakangnya. Suara aku meninggi. Ketika itu aku merasakan balaknya memancut panas ke dalam cipap aku. Aku tak tahu apa yang aku kata lagi Cuma jeritan nikmat yang tidak dapat aku bayangkan lagi apabila menerima berdas-das pancutan darinya. Hangat dan banyak.
Apa bila semuanya reda. Dia bangkit dari atas tubuh aku yang kini macam kain buruk. Aku membelai tangannya.

“Ganaslah abang ni”
Dia mencabut balaknya dari cipap aku yang banjir dengan air mani.
”Tak suka?” tanyanya rengkas.
“Puas” jawab aku rengkas.
Dia mengenakan zip seluarnya dan menyarung kemeja T nya.
“Abang” bisik aku perlahan. Dia menoleh kepada aku sebelum membuka pintu van.
Aku mengucup bibirnya. “Sapa nama abang sebab Ana nak ingat sampai bila-bila”
Tangannya meramas buah dada aku dan sebelah lagi ponggong aku yang bulat.
“Jimie” jawabnya rengkas. Lalu keluar dari van.
Ketika suami aku masuk ke dalam van aku bersandar semula ke dinding van.
“Ana OK?” ketika itu kedengaran enjin lori bergerak.
“Separuh mati bang? separuh mati?” jawab aku.
“Kita balik?” tanya suami aku.
“Abang sajalah yang pandu sorang biar Ana tidur di belakang ni” Aku merebahkan diri ke celah-celah bungkusan kain.

Suami aku menutup pintu van dan naik ke tempat pemandu. Sebentar kemudian van bergerak dan aku hanyut ke dalam mimpi. Bertelanjang bulat dan terkangkang.
Walau siapa pun Jimie..aku tidak akan melupainya


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.